Selamat Datang, Permata! Alya’s Birth Story

Assalamualaikum.

Sudah lama sebenarnya aku ingin menulis cerita kelahiran Alya, namun sayangnya belum sempat. Maklum, ibu baru masih penyesuaian diri, masih berkutat dengan breastfeed, pumping, dan diaper, hehehe. Alhamdulillah akhirnya sempat juga, mumpung ada suami yang jagain Alya hehehe. Berikut ini cerita lengkap bagaimana pada akhirnya aku bisa bertemu dengan Alya, ceritanya dibawa santai aja yaaaaaa……….

30 Desember 2017

Sudah lewat 3 hari dari HPL berdasarkan HPHT, namun usia kehamilan menurut USG dengan dr. Della masih berkisar di angka 38-39 minggu. Anehnya, dari 3 dokter di 3 rumah sakit berbeda, hanya USG di dr. Della yang memiliki perbedaan usia kehamilan cukup signifikan dengan usia kehamilan berdasarkan HPHT. Di satu sisi aku bersyukur, karena kelihatannya perbedaan ini justru mengurangi ruang dokter untuk melakukan intervensi kehamilan.Jadi tidak diburu-buru untuk segera dilahirkan, hehe.

Hari ini kami pun kontrol kehamilan seperti biasa. Hasil USG menunjukkan usia kehamilan 39 minggu, artinya masih ada waktu 1 minggu lagi sampai ke HPL. Semua perangkat rahim pun masih berfungsi dengan baik. Ketuban banyak dan jernih, aliran darah plasenta dan tali pusat baik, posisi adik sudah masuk panggul cukup dalam, tanpa lilitan tali pusat. Dokter bilang, akan menunggu 1 minggu lagi sampai tanggal 5 Januari, jika sampai tanggal 5 adik bayi belum lahir, maka akan dilakukan induksi persalinan dengan konsumsi misoprostol secara oral. Aku ingat betul ketika dr. Della mengatakan,

“Kita tunggu satu minggu ya… kalau belum keluar, kita induksi. Biasanya sih bayi kalau sudah dibilang akan diinduksi nanti dia lahir duluan hehehe”

Aamiin!

Mendengar kata induksi, aku sedikit cemas. Aku sebenarnya berusaha sebisa mungkin supaya minim intervensi medis. Banyak juga yang cerita bahwa induksi itu sakit. Namun berdasarkan informasi yang kugali di internet, penggunaan obat tersebut termasuk induksi yang sangat sangat sangat ringan, membuatku sedikit lega, merasa lebih siap dan tenang. Kalau memang itu jalannya, maka tidak ada pilihan lain selain menerima dengan ikhlas, kan? Tapi aku terus berdoa dan berharap, semoga saja Alya memilih untuk lahir sebelum itu.

Supaya aku bisa segera bertemu Alya, aku makin rajin lagi melakukan induksi alami, mulai dari makanan (nanas, duren, kurma, pepaya, kiwi, mangga), exercise (squat challenge, main gymball, pelvic rocking, daily walk), dan lainnya (massage, mandi air hangat, nonton film mellow2, aromatherapy, komunikasi dan affirmasi ke janin).

dates_625x350_81427802819
Sebuah penelitian mengatakan bahwa konsumsi kurma dapat mempercepat dan memperlancar proses persalinan. Image Source here

31 Desember 2017

Aku menjalani aktivitas seperti biasa, bangun shubuh kemudian ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Tiba-tiba,, pluk! Aku merasa ada yang keluar dari dalam, jatuh ke lantai kamar mandi. Aku lihat ternyata ada lendir cukup banyak, kenyal, dan kental, jelas berbeda dengan lendir keputihan atau cairan sekresi alami dari alat kewanitaan. Yay! Hello there, mucus plug, tanda awal tamu agung akan segera hadir, hehe. Tapi mucus plug ku kali ini berwarna bening, tidak ada bloody show sama sekali. Berarti kemungkinan masih jauh dari proses persalinan. Selepas maghrib aku kembali mendapati mucus plug berwarna bening kekuningan di pakaian dalam. Tapi tetap saja hari ini membahagiakan buatku karena Alya sudah memberikan tanda kedatangannya. Aku makin semangat melakukan induksi alami.

1 Januari 2018

Semalaman aku menunggu tanda selanjutnya, ternyata Alya belum juga memberikan tanda lanjutan. Pagi harinya aku kembali menemukan mucus plug yang mulai berwarna kecokelatan. Aku pun berjalan kaki pagi dan exercise seperti biasa. Aku jalan pagi 2.5 km di Taman Kota 1.

Siangnya aku ke SMS, niatnya ingin makan churros di Churreria, sayang ternyata gerainya sudah tutup. Yasudah, jadinya aku makan mango waffle di Nannys.

2 Januari 2018

Aku memutuskan untuk memulai periode maternal leave supaya bisa lebih relaks, nyaman, dan mempersiapkan segalanya untuk kelahiran Alya.

3 Januari 2018

Suamiku sudah mulai masuk kerja lagi, sehingga aku hanya melakukan exercise di rumah seperti biasa. Makan nanas, kiwi, kurma. Sop duren juga deh kalau ga salah. Iya, saking inginnya bertemu Alya.

5 Januari 2018

Sampai hari ini belum ada tanda-tanda lagi. Aku hanya merasakan sedikit sekali kontraksi palsu yang sangat rancu dengan mules ingin buang air besar. Namun pagi ini, aku merasa ada cairan yang keluar mengalir sampai paha, bahkan rembes ke sprei. Sebenarnya sejak kemarin, cairan seperti ini sudah muncul sedikit-sedikit, namun kupikir cairan sekresi biasa dan memang  tidak pernah terasa serembes ini. Ibu menyarankan untuk segera ke rumah sakit karena mengira itu ketuban, tapi aku tidak yakin. Aku mengecek pH cairan tersebut menggunakan kertas lakmus, ternyata pH nya masih asam, jadi kemungkinan besar bukan air ketuban.

Hari ini adalah jadwal aku kontrol sekaligus batas waktu yang dikatakan dr.Della untuk dilakukan induksi. Namun ternyata, hari ini dr. Della tidak praktik. Wah Alhamdulillah, masih ada waktu satu hari lagi untuk mengusahakan Alya terlahir alami.

6 Januari 2018. 11.00

Dr.Della bingung kenapa aku masih belum memberikan tanda-tanda signifikan akan melahirkan, padahal posisi bayi sudah turun sekali ke bawah panggul. Aku cengengesan aja.

“Duh wiii kok kamu masih cengengesan aja”
“Abis gimana dok, hehe”

Kemudian kujelaskan apa saja yang terjadi selama seminggu terakhir. Selanjutnya, pemeriksaan USG  menunjukkan bahwa air ketubanku mulai mengeruh walaupun jumlahnya masih banyak. Akhirnya dr. Della melakukan VT sekaligus merangsang bukaan, karena menurutnya, kalau dibiarkan ditunggu lagi namun kontraksi belum juga muncul, khawatir kondisi perangkat rahim yang lain juga menjadi kurang optimal.

VT kali ini sedikit lebih sakit daripada yang pernah kulakukan sebelumnya dengan dr.Silfiren di RSB Permata Sarana Husada. Eh banyak deng lebih sakitnya, karena sambil berusaha merangsang bukaan. Tapi yang aku suka, dr.Della selalu meminta izin dari aku dan adik bayi setiap kali melakukan hal yang membuat kami tidak nyaman.

Setelah itu, dokter menunjukkan tangannya bahwa sudah ada lendir darah. Sesaat kemudian, darah hangat mengalir deras dan banyak, sampai membasahi bagian belakang gamisku. Anehnya aku masih cengengesan, karena alih-alih kesakitan aku justru bahagia karena artinya aku lebih dekat pada persalinan.

Dokter juga membatalkan rencana induksi karena menurutnya, kontraksi akan segera datang. Aku pun diminta untuk tidak kembali ke rumah. Dokter mengarahkan untuk melakukan CTG di ruang VK dan selanjutnya dilakukan observasi selama 6 jam. Ohya, saat itu posisi mulut rahimku masih benar-benar posterior sempurna dan masih belum lunak. Alamaaak sepertinya masih jauh nih persalinannya, masa udah disuruh stay aja. Tapi aku menurut.

Saat aku ke ruang VK untuk melakukan CTG, ternyata sudah ada 3 kali kontraksi dalam 10 menit tapi aku ga kerasa (?). Bidan VK pun melakukan VT karena penasaran melihat banyaknya darah di bajuku, saat itu bukaan 1. Setauku bukaan 1 itu masih tahap awal fase laten, jadi aku sebenarnya sudah ingin pulang saja. Tapi aku tetap menurut untuk tetap di RS untuk observasi, lagipula Masun sudah terlanjur pesan kamar. Selama observasi, aku tetap jalan-jalan, squat, main gymball, makan kiwi kurma nanas etc. Sorenya aku juga jalan-jalan keliling RS, sampai ada drama dicariin bidan dan dokter karena mengira aku kabur dari RS LOL!

6 Januari 2018. 17.00

Bidan datang dan melakukan cek VT. Masih bukaan 1 namun sudah mulai lunak. Akhirnya aku minta pulang karena selama observasi aku tidak merasakan kontraksi yang signifikan (walaupun bidan bilang kontraksiku sudah bagus), lagipula siapa tau aku masih bisa nonton Insidious dulu malamnya heheh. Sayangnya aku diminta untuk menunggu sampai dilakukan VT lanjutan oleh bidan dari VK. Baiklah…

6 Januari 2018. 21.00

Aku turun ke ruang VK untuk cek dalam oleh bidan Nisa. Bidan Nisa juga memberikan rangsangan bukaan dan rasanya masyaAllah sampai membuatku tahan nafas dan memejamkan mata. Masih bukaan 1, aku tidak heran. Tapi sudah sangat lunak, okay it‘s a progress. Selanjutnya aku masih diminta menunggu di ruang VK sampai dokter melakukan visit. Setelah itu aku utarakan keinginan untuk pulang dan kontrol kembali 3 hari kemudian jika masih belum melahirkan, mengingat bukaan 1 masih fase laten. Tapi dokter bilang diobservasi dulu sampai besok pagi dan kalau pembukaan belum maju maka akan dilakukan induksi dengan 1/4 tablet misoprostol secara oral. Akhirnya walaupun sedikit kecewa ga jadi nonton Insidious malam itu haha, aku tetap menginap di RS, masih belum ada tanda-tanda persalinan. Aku merasa terlalu dini masuk ke RS, khawatir justru berakhir di meja operasi. Namun Masun berusaha menghibur dan menenangkan, pastilah dr.Della punya pertimbangan lain mengapa aku tidak diizinkan pulang.

7 Januari 2017. 03.00

Aku bangun dan ingin ke kamar kecil. Ketika mencoba tidur kembali, aku merasakan kontraksi yang durasinya cukup lama. Akhirnya aku coba cek pakai aplikasi kontraksi, ternyata sudah mengikuti pola 4-1-1. Kemudian aku membangunkan Masun sambil tersenyum bilang “Sayang, bangun yuk. Alya sebentar lagi lahir, kontraksiku udah 4-1-1”.

kon
Catatan gelombang cinta dari Alya

Selanjutnya, Masun selalu mendampingi setiap kali gelombang kontraksi itu datang. Selalu aplikasikan ilmu olah nafas yang selama ini dipelajari sambil melakukan beberapa jenis active movement yang mendukung persalinan. Aku rebozzo, pelvic rocking, bouncing, kneeling, shake the apple tree, standing sacral release, juga melakukan pose cat cow dan baddha konasana supaya adik bayi makin turun. Squatting juga masih sanggup dilakukan. Selama kontraksi, Masun ikut bernafas bersama, sambil melakukan afirmasi positif dan kemudian memberi saya apresiasi setiap berhasil melewati gelombang kontraksi dengan baik.

Good Job, sayang”
“Kamu kuat, kamu bisa”
Smile dulu”
“Minum dulu yuk, sayang”

7 Januari 2017. 05.30

Aku mandi pagi dengan air hangat, sekalian relaksasi. Nikmat sekali rasanya seperti release all the sensation hehe. Saat aku mandi, Ibu, Bapak, dan Bulik tiba di rumah sakit. Mulai dari sini, interval kontraksi semakin rapat, hanya berselang 2 – 2.5 menit dengan durasi 1-2 menit. Tapi rasanya masih manageable dan masih bisa sadar dengan nafas. Aku pikir, aku sudah masuk fase aktif.

Setiap kontraksi yang datang, membawaku semakin dekat dengan bayiku.
Setiap kontraksi yang datang, bayiku sedang berjuang mencari jalan lahirnya.
Kita berjuang sama-sama ya sayaaang!

7 Januari 2017. 06.41

Ternyata masih bukaan 2, namun sudah mulai tipis. Sempat tidak percaya masih bukaan 2 karena interval kontraksi sudah cukup rapat. Tapi alhamdulillah karena bukaan maju, aku tidak jadi diinduksi.

7 Januari 2017. 09.10

Bidan kembali melakukan VT. Sudah hampir bukaan 4 katanya. Ditanya apakah masih kuat atau sudah mau turun ke VK. Aku menolak masuk ke ruang VK karena merasa masih kuat dan bisa manage gelombang cinta yang datang.

7 Januari 2017. 10.26

Sejak melakukan VT pukul 09.10, aku merasa sensasi rasa yang diterima semakin kuat dan semakin rapat. Mencoba berbagai posisi pun sulit menemukan yang nyaman. Ibu, bulik, dan bapak bergantian memijat lowerback, sementara Masun terus berada di sampingku, menggenggam tanganku, sambil memberikan afirmasi positif dan melakukan gerakan release agar aku tidak tegang. Akhirnya, aku merasa tidak kuat dan sangat lelah, aku pun minta turun ke ruang VK. Sesampainya di VK, kembali dilakukan VT, ternyata sudah hampir bukaan 5. Alhamdulillah akhirnya memasuki fase aktif, bismillah aku semangat lagi. Sebentar lagi. Sebentar lagi aku akan memeluk Alya, pikirku. Masun pun segera mendiffuse aromaterapi yang sudah kami siapkan sebelumnya. Aku tetap berganti-ganti posisi namun lebih terbatas. Masun juga terus memijat panggul supaya aku merasa lebih nyaman.

98c7971cedaf4c77ac34510b21fe26f5
Aromaterapi lavender dapat digunakan untuk membantu ibu relaks selama proses persalinan. Image Source here.

Kali ini, sensasi rasa yang datang berbeda dengan sebelumnya. Kalau sebelumnya masih terpusat di perut dan rahim, kali ini rasanya berpusat pada panggul dan tulang ekor. Aku merasakan dorongan yang kuat seolah ada yang ingin mendesak keluar. Rasanya ingin buang air ke kamar mandi, meskipun tidak ada yang keluar. Pastilah kepala adik bayi sudah makin ke bawah hingga menekan tulang ekor dan uretra, pikirku.

7 Januari 2017. 11.55

Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk Masun, tiba-tiba aku merasakan dorongan yang sangat kuat dan kemudian BYAR! Ketubanku pecah. Banyak dan bening. Ahhh.. Alhamdulillah rasanya legaaa sekali. Aku tahu aku tidak boleh banyak bergerak lagi setelah itu sehingga aku segera berbaring ke kiri. Ternyata aku sudah masuk bukaan 7.

Banyak yang bilang dari bukaan 7 sampai lengkap, rasanya ingin sekali mengejan. Aku tidak. Aku justru khawatir aku telah mengejan dengan tidak sengaja karena dorongan yang sangat kuat dari dalam tubuhku. Aku tanya bidan apakah aku mengejan tanpa aku sadari, katanya tidak. Aku disuruh melakuan nafas pendek tiup-tiup atau seperti orang kepedasan untuk mencegah aku mengejan. Aku pernah belajar tentang ini sebelumnya, namun ternyata aku lebih nyaman melakukan olah nafas seperti sebelumnya.

Bidan meminta aku untuk mengganti baju karena baju sebelumnya basah akibat air ketuban. Aku selalu bilang “nanti dulu”, karena aku ingin mengganti baju saat dorongan tidak begitu kuat. Tidak lama kemudian bidan meminta aku segera ganti baju sambil dibantu. Menurut Masun, bidan terlihat mulai khawatir dan ingin menyegerakan, mungkin karena waktunya hampir tiba. Jarum untuk memasukkan obat-obatan persalinan pun tidak sengaja terlepas saat aku berganti baju. Bidan segera mengganti dengan yang baru. Aku merasa aku telah tiba di titik surrender. Menerima apapun yang terjadi dan dilakukan kepadaku dengan pasrah, karena aku yakin itu mendekatkan pertemuanku dengan Alya.

7 Januari 2017. 12.25

Bukaan 8. Memasuki fase transisi.  Tidak lama kemudian dokter datang dan langsung memakai apron berbahan plastik. Wah, waktunya sudah tiba, aku masih tidak percaya aku sampai kepada titik ini. Aku bahkan bertanya “sudah mau lahiran ya, dok?”, membuat Masun melengos dalam hati (katanya) dan membatin “yaAllah ini bocah pake nanya”

Dr.Della hanya menjawab “iya wii Alhamdulillah ya ditunggu-tunggu”

Dr.Della kemudian menjelaskan beberapa prosedur, mulai dari kapan aku mengejan sampai prosedur episiotomi. Aku memang tidak berharap dapat melahirkan dengan perenium utuh, mengingat aku jarang sekali melatih otot perenium. Latihan kegel pun sebatas kalau ingat saja, hehe.

Posisi melahirkan dilakukan dengan cara litotomi, dengan aku mengangkat paha dengan tanganku sendiri dan merentangkannya. Aku cukup suka cara ini, karena kendalinya ada pada diriku sendiri. Ya.. walaupun aku sebenarnya berharap bisa melahirkan dengan posisi jongkok sih hehe.

“Kalau sudah merasa sakit, ngeden ya wi”
“Sakit sperti apa maksudnya dok?”
“Ya mules”
“Oh kontraksinya ya.. oke!”

Tidak lama kemudian..

“Dok ini sakit bukan ya?”
“Kamu ngerasa sakit?”
“Heem kayanya.. eh iya sakit nih dok”
“Oh yaudah yuk ngeden”

Aku berusaha mengingat apapun yang telah kupelajari mengenai teknik mengejan. Mata terbuka, gigi terpaut, mulut senyum lebar meringis, tanpa suara hehe.  Bismillah, laa hawla walaa quwwata illa billah!

Aku pun mengejan. Beberapa lama kemudian gelombang kontraksi pertama hilang, dokter bilang mengejanku bagus. Selama mengejan suasana ruangan begitu hening, hanya terdengar suara dokter yang memandu. Setelah selesai mengejan, Masun menyuapiku sebutir kurma dan memberiku minum air zam zam, sambil terus menyemangati.

Gelombang kedua datang. Aku kembali mengejan. Kemudian berhenti ketika nafasku habis. Sudah mulai crowning, katanya. Ohya, saat itu dilakukan prosedur episiotomi, aku bisa dengan jelas mendengar suara krek – krek dari gunting dokter.

Ohya, di akhir saat sedang melakukan IMD sambil jahit menjahit, bu bidan dan dokter ngobrol santai..

“Yaampun dok tadi ngeri banget suara guntingnya kedengeran gitu”
“Iya ya, abisnya Dwi diem banget sih makanya kedengeran. Yang lain kan biasanya berisik. Duh wii kalau semua yang lahiran kayak kamu, 10 sehari saya sanggup deh!”

Okay, back to the track

Gelombang ketiga datang, aku menarik nafas lebih panjang dan mengejan dengan lebih kuat. Kan katanya udah crowning, hehe. Sambil mengejan, kata dokter jangan dilepaskan, sehingga ketika nafasku habis, aku langsung sambung dengan nafas berikutnya. Terus menerus hingga aku merasakan dengan sadar kepala Alya berhasil melewati jalan lahir, disusul oleh bahu, badan, hingga kaki. Tangis pertama Alya pecah di ruangan tepat pukul 12.41, bersama kelegaan dan rasa hangat di hati dan pelupuk mataku. Terima kasih, Ya Allah… semua terjadi begitu cepat, begitu lancar.

Dalam tangisannya yang belum berhenti, kuucapkan salam pertamaku untuk Alya, mengiringi kehadirannya di dunia. Aku langsung mendekap Alya begitu ia diletakkan di dadaku untuk proses IMD. Seketika tangisannya berhenti. Masun segera mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga Alya. Begitu haru, begitu takzim, aku merasa Allah begitu dekat…

Rasanya indah sekali..

Selamat datang ke dunia, sayangku.. belahan jantungku ❤

aa-Cover-r7s8taq5hp0fm1upu432k0g040-20170624103539.Medi

Featured Image source

Advertisements