Pengalaman Tes IELTS di IALF Jakarta

Hai all, I’m back!

Menyambung tulisan sebelumnya mengenai Pengalaman IELTS Preparation di IALF Jakarta , kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman tes IELTS, masih di tempat yang sama. Kenapa saya memilih tes di IALF? Karena selama belajar disana, saya merasa nyaman dengan fasilitasnya, sehingga besar harapan saya penyelenggeraan tes disini juga nyaman dan kondusif.

Pertama-tama yang perlu dilakukan untuk melakukan tes IELTS adalah mendaftarkan diri. Ada dua cara untuk mendaftar tes IELTS di IALF yakni :

  1. Walk in registration
    Untuk walk in registration, kita hanya perlu datang ke kantor IALF pada hari kerja (Senin-Jumat pukul 08.00 – 16.00), mengisi form aplikasi dan membayar biaya tes di kasir. Pembayaran dapat dilakukan dengan uang cash maupun dengan kartu debit/kredit.
  2. Online registration
    Saya memilih mendaftar menggunakan metode ini karena lebih praktis dan tidak perlu meninggalkan kantor. Saya hanya perlu mengunjungi website IALF di bagian IELTS Registration and Test Dates. Selanjutnya tinggal klik icon IELTS Online Payment and Registration yang ada di halaman ini. Setelah memilih lokasi dan tanggal tes yang tersedia, kita akan diantarkan ke web IELTS Essential dari IDP untuk melengkapi aplikasi pendaftaran.
    Jika teman-teman berminat untuk memilih lokasi lain untuk melakukan tes, bisa juga langsung mengunjungi web IDP melalui tautan berikut https://my.ieltsessentials.com/ dan klik Begin IELTS Registration.Setelah mengisi aplikasi online, sistem akan mengirimkan Payment Instruction ke email kita dan langkah selanjutnya adalah melakukan pembayaran. Saat itu saya dikenakan biaya Rp2.850.000. Pembayaran dilakukan menggunakan transfer ATM. Setelah membayar, kita juga akan mendapatkan email konfirmasi pembayaran beserta detail pelaksanaan tes.

Saat tanggal tes tiba, registrasi dilakukan pukul 07.30, kalau telat tidak boleh ikut tes hehe. Selanjutnya kita perlu melakukan 4 tahapan pendaftaran sebelum memasuki ruangan auditorium tempat tes IELTS dilaksanakan yaitu :

  1. Pendaftaran peserta
    Antrian pertama adalah mengantri untuk mengetahui nomor peserta tes. Disini kita harus menunjukkan kartu identitas ASLI yang digunakan pada saat mendaftar. Disini juga ada petugas yang akan mencocokkan wajah kita dengan foto yang tertera di kartu identitas. Benar-benar diperiksa, lho. Kira-kira 3 kali petugas mencocokan wajah saya dengan foto sebelum saya diizinkan untuk mengambil nomor peserta. Bahkan suami saya juga ditandai KTPnya dan diminta untuk menyertakan identitas tambahan (SIM, karena wajah suami saya dianggap berbeda dengan foto di KTP). Hehe secara suami dulu bikin KTP saat SMA, sekarang sudah bekerja dan sudah menggunakan kacamata.
  2. Menitipkan barang bawaan
    Setelah memperoleh nomor peserta, kita diminta untuk menaruh barang bawaan kita di suatu ruangan khusus. Hanya diperbolehkan membawa kartu identitas, nomor peserta, kartu penukaran tas, serta botol minum TRANSPARAN. Tidak perlu membawa alat tulis karena akan disediakan oleh IALF. Handphone juga harus dipastikan dalam keadaan mati (bukan hanya silent).
    Karena saya sedang hamil muda (11 weeks) sekaligus puasa, saya meminta izin untuk membawa minyak telon/kayu putih untuk jaga-jaga apabila saya merasa pusing atau tidak enak badan selama tes. Alhamdulillah diizinkan oleh petugas.
  3. Pas Foto dan Rekam Sidik Jari
    Antrian selanjutnya adalah melakukan pas foto dan rekam sidik jari. Pas Foto ini nantinya yang akan dimasukkan ke dalam sertifikat hasil tes. Ada 2 pos untuk melakukan pas foto dan rekam sidik jari, ambil yang paling pendek saja antriannya hehehe.
  4. Tanda Tangan
    Terakhir, tanda tangan di form kedatangan peserta. Setelah itu kita akan diminta menunggu di sepanjang lorong IALF sampai waktu tes tiba. Tenang, ada tempat duduknya kok 🙂

Mendekati waktu tes tiba, panitia akan mengingatkan untuk ke toilet terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan tes. Selanjutnya, panitia akan memanggil nama kita satu per satu untuk masuk ke auditorium. Auditoriumnya sejuk dan sangat luas, menggunakan kursi-kursi lipat seperti pada bangku perkuliahan dimana di masing-masing meja sudah terdapat nomor peserta. Kita hanya perlu duduk di meja dengan nomor yang sesuai dengan nomor peserta.

Selama rangkaian tes, kita akan dipandu oleh invigilator IELTS dari IALF. Sangat banyak invigilatornya, mungkin ada sekitar belasan dalam satu ruangan tersebut. Audionya juga benar-benar clear dan jelas, sehingga hasil tes insyaallah tidak akan terganggu dengan kendala teknis seperti audio yang kurang jelas hehe. Rangkaian tes dilakukan sesuai dengan ketentuan tes IELTS, dimulai dari Listening, Reading, sampai Writing. Ohya kita diberikan 2 buah pensil yang sudah diraut dan 1 buah penghapus. Untuk pensil apabila di pertengahan jalan pensilnya sudah tumpul, kita juga bisa menukar dengan pensil yang lebih tajam dengan mengomunikasikannya pada invigilator.

Isi tes IELTS tertulis saya saat itu kurang lebih seperti ini :

  • Listening
    Section 1. A phone conversation about booking a restaurant for a surprise party.
    Section 2. A radio program about different cycling tracks.
    Section 3. A conversation between a tutor and a student who wants to do a field study.
    Section 4. About human sense of smell.
  • Reading
    Passage 1. About the effect of exercise on human brain.
    Passage 2. About the development of television in the UK.
    Passage 3. About the controversy of tourism.
  • Writing
    Task 1. We were given a graph showing the percentage of female members in parliament in five European countries.
    Task 2. Some people think that drivers should pay for building and maintaining roads, while others think that the government should pay the costs of infrastructure. What is your opinion? Give reasons for your answer and include any relevant examples from your knowledge or experience.

Paling gemas sama writing, terutama Task 2. Karena mungkin saya kurang cocok dan kurang memiliki pengetahuan atau pengalaman mengenai bidang tersebut sehingga essay yang saya tulis kurang deep dari segi konten :(, walaupun dapat menyelesaikan tugasnya sampai selesai. Yasudah, yang lalu biarlah berlalu yang penting sudah melakukan yang terrrrrbaik hehe. Di antara keempat komponen tes, memang nilai saya paling rendah di writing hiks, tapi alhamdulillah masih memenuhi requirement yang dibutuhkan oleh perguruan tinggi.

Rangkaian tes tertulis IELTS selesai sekitar pukul 12.00, dan selanjutnya kami diberikan arahan mengenai jadwal pelaksanaan tes speaking (masih di hari yang sama). Saya mendapat giliran jam 14.30 kalau tidak salah dan harus kembali ke lokasi tes 30 menit sebelum jadwal tes. Ohya, saya akhirnya membatalkan puasa saya karena setelah proses mengantri, saya merasa sangat pusing dan pandangan berbayang, sehingga selama tes saya minum air putih (tetap lapar haha). Sembari menunggu waktu pelaksanaan tes speaking, setelah sholat saya dan suami jalan ke Setiabudi One untuk makan siang (suami ngeliatin aja tapi).

Saya menunggu di auditorium sampai nama saya dipanggil untuk tes speaking. Setelah nama saya dipanggil, saya diminta menunggu di kursi yang ada di luar ruangan tes. Saya mendapatkan ruangan nomor 5 sambil menunggu peserta sebelumnya selesai. Examiner saya adalah perempuan bernama Caroline. Beliau sangat santai, ramah, dan murah senyum, tapi berbicaranya sangat cepat. Saking murah senyumnya, beliau seringkali merespon jawaban saya dengan tertawa santai. Sebenarnya hal ini mungkin bagus, untuk mencairkan suasanya, membuat saya enjoy serta rileks,  namun saya jadi sering merasa lepas grip dan kontrol terhadap struktur dan grammar karena berusaha memberikan respon yang serupa. Jadi inget saran untuk melakukan mirroring your examiner, termasuk dalam intonasi dan pace dalam berbicara.

Ohya sekedar share lagi, berikut ini kira-kira isi dari tes speaking saya kemarin:

Part 1. Interview

  • What is your full name?
  • Can I see your ID?
  • Where are you from?
  • Do you work or study?
  • What do you do?
  • What is the most challenging thing at your work?
  • Why is that?
  • Let’s talk about e-mails.
  • Are e-mails popular in your country? Why?
  • How often do you write and send e-mails?
  • Do you think e-mail will be still popular in the future? Why?
  • Let’s talk about neighbors.
  • Do you know your neighbors?
  • Do you prefer younger or older people as neighbors? Why?

Part 2. Cue Card

Talk about your favorite piece of clothing. Please say
  • What is it?
  • Why do you like it?
  • How often do you wear it?

Part 3. Discussion

  • Do you think people enjoy buying clothes?
  • Why do some people go together with other people when shopping for clothes?
  • Is online shopping useful in buying clothes? Why?
  • What’s the effect of fashion industry on the current fashion?
  • What’s the effect of fashion on people’s behavior regarding clothes?
  • Do people care about recycling their clothing?

YaAllah part 3 nya kenapa susah haha. Kalau kata suami saya sih, mungkin saya dapat part 3 yang susah karena examiner nya mempertimbangkan untuk memberikan band yang tinggi sehingga menyesuaikan jenis soal yang diberikan. Hehe menghibur sih, amin! Yasudah tidak apa-apa jawab sebisanya dan alhamdulillah examiner sepertinya bisa menerima sekaligus merespon dengan baik jawaban saya. Saya merasakan interaksi dengan beliau cukup kuat dan baik. Ohya sekedar tips, walaupun penting untuk bisa engage dengan baik dengan examiner pada sesi speaking ini, tidak perlu over. Tidak perlu bertanya kepada examiner apakah sudah makan, apa kabar, dan lain sebagainya. Basically examiner menginginkan partner yang bisa diajak bekerja sama dengan baik pada sesi tes speaking ini because, we all know, their pressure is also high. Hehe.

Keluar dari ruangan, menghembuskan napas lega. Nyesel-nyesel dikit kenapa ga ngomong ini itu, kenapa ga keluarin vocab ini, dst. Eh pas saya mau ambil tas, dari ruangan 4 keluar Paul, teacher saya selama les di IALF hehe. Beliau mengenakan kemeja biru muda, celana bahan, dasi, dan pantofel, berbeda sekali dengan saat mengajar yang hanya menggunakan polo shirt, celana kasual, dan sepatu kets. Hehehehe. Lucu kali ya kalau ternyata examinernya adalah teacher sendiri, eh tapi mungkin ga ya? Entahlah 🙂

Overall, saya merasa puas tes disini karena fasilitasnya nyaman, audionya clear, dan penyelenggaraannya juga tertib. Hasil tes bisa diambil 13 hari setelah tes dilakukan.

Untuk yang berencana melakukan tes IELTS dalam waktu dekat, semoga artikel ini bermanfaat. Good luck ya!
Featured Image Source here

Dwi Mustika Handayani

Advertisements

Pengalaman IELTS Preparation di IALF Jakarta

Selamat siang, happy weekend everyone!

Kalau teman-teman pembaca menyadari, judul blog ini sudah tidak lagi The Wedding Journal. Kenapa ya? Alasannya sederhana, karena saya ingin memberikan kebermanfaatan blog ini seluas-luasnya, berbagi sebanyak-banyaknya, tidak terbatas pada hal-hal terkait persiapan pernikahan saja. Insyaallah. Tulisan persiapan pernikahan tetap bisa diakses di menu The Wedding Journal yang ada di top bar halaman ini ya 🙂

Kali ini saya ingin bercerita pengalaman saya dan suami mengikuti kursus IELTS Preparation di IALF Jakarta. Awalnya ada beberapa lembaga yang saya lirik untuk ambil IELTS Prep, di antaranya adalah British Council, IDP Education, dan IALF (Indonesia-Australia Language Foundation). Alternatif lain adalah Kaplan BSD, The British Institute, atau LBI UI Depok.

Kami fokus untuk mencari informasi mengenai 3 lembaga pertama karena lembaga-lembaga tersebut merupakan lembaga resmi yang menyelenggarakan Tes IELTS di Indonesia, sehingga kami (langsung saja) percaya bahwa proses belajar akan didukung oleh pengajar yang kompeten dan memiliki standar. Hehe, alasannya mainstream ya, padahal bagaimanapun sebuah lembaga hanyalah merupakan kendaraan atau fasilitas, sementara proses belajar kembali lagi kepada individu masing-masing.

Ternyata British Council tidak memiliki kelas khusus persiapan IELTS, tetapi hanya kelas General English yang di dalamnya mencakup materi-materi IELTS. Sementara IDP juga hanya menyediakan workshop intensif yang dilakukan di hari kerja, sisanya hanya kelas dan materi online di web. Sehingga, karena kami butuh kelas yang intensif persiapan IELTS dan rutin di luar hari kerja, kami memutuskan untuk mengambil kelas IELTS di IALF Jakarta. Saya pun mendapat rekomendasi dari seorang sahabat yang pernah mengambil kelas disana. Ulasan-ulasan mengenai lembaga ini di blog-blog lain juga sangat baik.

Kami memutuskan untuk mengambil kelas Semi-Intensive IELTS Prep (50 jam) di hari Sabtu selama 8 minggu dengan biaya Rp 4.800.000/orang. Persyaratan untuk dapat mendaftar ke kelas ini adalah mengikuti placement test dan mendapatkan hasil minimum Pre Intermediete level. Biaya yang dibutuhkan untuk mengambil placement test adalah Rp 100.000 per orang. Tes dilakukan di perpustakaan IALF dan terdiri dari 50 soal pilihan ganda dengan waktu pengerjaan 1 jam. Hasil tes akan keluar saat itu juga, sehingga hanya perlu menunggu sebentar, dan kalau lulus bisa langsung mendaftar kelas.

Alhamdulillah saat itu kami berdua sama-sama bisa langsung mendaftar kelas, sehingga kami langsung mendaftar untuk kelas Sabtu. Ternyata cukup panjang waiting listnya, saat itu bulan Februari dan kami kemungkinan baru bisa mendapatkan kelas Maret atau April. Saat itu kami masuk urutan waiting list ke 90an, mungkin karena banyaknya peminat yang sedang melakukan persiapan untuk beasiswa juga ya, hehehe. Karena masih belum jelas akan bisa bergabung di kelas yang mana, pembayaran baru bisa dilakukan setelah kami mendapatkan info mengenai ketersediaan kelas. Akhirnya pada tanggal 21 Maret, kami mendapatkan kelas yang akan dimulai tanggal 1 April – 27 Mei 2017.

Kami masuk ke kelas yang sama. Jumlah siswa di kelas Semi-Intensive ini adalah 15 orang dan kebanyakan adalah perempuan. Rata-rata yang mengambil kelas ini adalah mereka yang mau melanjutkan studi ke luar negeri. Usianya sepantaran kami sih, tidak ada yang terlalu tua maupun terlalu muda. Paling muda adalah mahasiswa yang masih kuliah sarjana. Selama 2 bulan kami belajar dengan tenaga pengajar native asal UK, namanya Paul. Untuk pengajar di IALF memang sepertinya semuanya native, dan banyak di antara mereka memang tersertifikasi sebagai examiner IELTS. Waktu saya lagi tes IELTS juga saya ketemu dengan Paul yang sedang menguji tes speaking di ruangan sebelah. Hehe. Jadi kita benar-benar belajar dari ahlinya, serta sedikit banyak mengerti apa yang diharapkan dan pola pikir examiner dari setiap section (terutama writing dan speaking).

Saya pribadi merasa puas belajar disini. Metodenya menyenangkan dan tidak membosankan, walaupun suasana kelasnya tidak seseru waktu saya kursus bahasa Jerman dulu. Orang-orangnya cenderung seragam, mungkin karena latar belakang yang cenderung mirip atau karena perbedaan usianya yang tidak terpaut terlalu jauh. Haha Jadi kelas ini agak serius dan orangnya pintar-pintar (jadi ga banyak yang nanya-nanya hehe). Okelah, yuk belajar yang serius 🙂

Dari Paul sendiri, dia memiliki metode mengajar yang menyenangkan. Terkadang kita harus berputar – putar sekeliling kelas untuk mengerjakan heading matching, atau kerja kelompok, atau main game sederhana untuk melatih speaking, bermain dengan dadu, latihan interview dengan que card, dan lain sebagainya. Hampir setiap pertemuan Paul akan memulai dengan brainstorming topik-topik yang sedang hangat dan sering muncul di tipe-tipe soal IELTS. So overall, seru sih!

IMG-20170527-WA0001[1]

Last day!

Saya ingin coba mengulas model belajar disini untuk masing-masing aspek dalam ujian IELTS ya..

  • Reading
    Kami sering sekali diberikan PR reading, serius hampir setiap minggu ada PR, bisa 1-2 passage. Di kelas kami pun sering berlatih mengerjakan reading. Tips-tips dari Paul tentang cara mencari jawaban reading juga useful menurut saya.

 

  • Writing
    PR untuk writing tidak sebanyak dan sesering reading. Tetapi dari PR tersebut, kami diberikan feedback secara personal untuk setiap aspek dalam penilaian tes IELTS, sehingga kami belajar kesalahan kami, mana yang kurang tepat, mana yang sudah oke, mana yang perlu ditingkatkan. Untuk writing kami juga sering berliatih di kelas dalam bentuk peer group (2-3 orang), dan tetap diberi feedback. Hasil kerja bersama kelompok biasanya akan dibuatkan copyannya oleh Paul, sehingga setiap orang tetap memegang hasil pekerjaannya. Menurut saya pribadi, writing ini merupakan section test yang paling membutuhkan strategi yang matang dan penguasaan yang baik, sehingga ke empat aspek penilaian IELTS writing (task achivement, coherence, lexical resource, grammatical range and accuracy)  harus benar-benar diperhatikan.

 

  • Listening
    Listening juga lebih sering dilakukan di kelas. Paul mengajarkan kita untuk bisa memprediksi distractor2 apa saja yang mungkin akan mengecoh kita dari jawaban yang benar (ini penting sih!), karena listening itu bukan sekedar mendengar sepenggal-sepenggal informasi, tetapi memahami secara utuh. Remember, just because you hear it, doesn’t mean it is the correct answer!

 

  • Speaking
    Ini aspek IELTS yang belajarnya paling sering menggunakan permainan interaktif. Seperti yang sudah disebutkan di awal tadi, seperti latihan tanya jawab menggunakan form/que card, latihan bercerita dengan diberi waktu, dll. Kadang juga ada tools tambahan seperti dadu, pion, dan bahkan sodet plastik. Hehe. Jadi interaksi dengan teman lebih banyak di section pembelajaran yang ini. Disinilah kita dilatih untuk percaya diri dan belajar dari teman-teman yang lain. Yang berbicaranya lebih fluent, yang kontrol terhadap struktur dan grammarnya baik, yang penguasaan lexicalnya juga lebih luas. Hebat2 deh! Kami saling bertukar ide dan saling support disini. Bahkan saling memberikan feedback. Sementara Paul hanya menyimak, memantau, dan sesekali memberikan feedback karena he obviously only has 2 ears. Meskipun demikian, jangan khawatir, masing-masing dari kami juga diberi kesempatan untuk melakukan 1 sesi simulasi tes speaking (MOCK Test) dengan Paul secara personal, dimana Paul berperan sebagai examiner. Disini feedback-feedback yang diberikan oleh Paul juga sangat detail. Bahkan saya masih simpan rekamannya, itung-itung kenang-kenangan. Hehehe.

Ujiannya diadakan 2 kali yakni saat mid term dan saat end term. Saat mid term tes nya berupa full listening + reading, ditambah writing section 1 only (karena belum banyak menyentuh section 2). Sementara untuk end term, full listening + reading + writing. Untuk speaking hanya dilakukan satu kali per orang, sesuai dengan jadwal (dalam satu hari ada sekitar 3 orang yang simulasi tes speaking).

Berbicara tentang fasilitas, fasilitas di IALF ini sangat lengkap. Selain study room, ada common room tempat kita makan dan bersantai (free drinking water and coffee!), computer room yang dilengkapi headset setiap unit, auditorium tempat tes IELTS dilaksanakan, dan juga perpustakaan yang super lengkap. Ohya, saran saya bagi teman-teman yang berencana kursus di IALF, manfaatkan betul perpustakaannya ya, karena buku buku ELT (English Language Training) dan Referencenya bagus bagus, jarang dijumpai di toko-toko buku yang umum. Kita juga bisa meminjam CD Audio untuk buku-buku yang memiliki Audio. Jadi selagi masih menjadi student disana, manfaatkan resource yang ada sebaik mungkin hehe.

Untuk buku, IALF tidak memberikan 1 buku untuk dijadikan pegangan kita. Setiap pertemuan, kita akan diberikan modul-modul kertas yang dapat kita masukkan ke binder yang diberikan di pertemuan pertama. Alasannya, karena tidak semua buku cocok dengan apa yang kita butuhkan. Jadi sistemnya adalah mengambil yang baik-baik dan dibutuhkan dari beragam buku.

Demikian, semoga bermanfaat, dan selamat belajar!
Featured image source

Dwi Mustika Handayani