Telur yang Pecah

Egg-In-Tray-720x405Pada suatu pagi, Alya yang sudah menghabiskan sarapannya, berjalan menuju kulkas dan mengambil telur. Saya yang mengantisipasi kejadian telur pecah pun berkata pada Alya “Hati-hati pegang telurnya ya.. telur mudah pecah”

Looh tidak disangka, tiba-tiba Alya justru menghentakkan telurnya ke lantai hingga pecah. Intentionally. “Wah pecah ya telurnya? Kita bereskan yuk!”, kataku selanjutnya. Dan sembari membersihkan pecahan telur, saya memikirkan banyak hal. Saya heran sekali, karena Alya sudah tidak pernah memecahkan telur. Dulu memang pernah, tapi kemudian ia selalu berhati-hati ketika membawa telur. And that’s how muscle memory works, isn’t it? Ia mengerti bahwa telur akan pecah jika terjatuh. Atau.. apa mungkin kata-kata saya kurang efektif, sehingga Alya memecahkan telurnya dengan sengaja?

Kejadian selanjutnya menjawab semuanya. Alya kemudian mengambil telur lagi, menyerahkan pada saya, kemudian berkata “Bu”, kata yang biasa dikatakan ketika Alya meminta bantuan. Dalam waktu yang singkat itu aku berpikir, apa yang Alya inginkan dari saya. Diapakan ya telur ini?

Alya mau telurnya dikembalikan? Bukan.

Alya mau ibu memecahkan telur? Sepertinya tidak mungkin.

Aha!

“Alya mau ibu bantu mengupas telur?” Yes. Dia mengangguk.

“Tapi telur ini masih mentah, Alya. Belum bisa dikupas. Alya mau telur rebus?”, tanyaku lagi. Ia mengangguk, semangat.

“Ibu rebus dulu ya telurnya?”, ia kembali mengangguk.

Saat itu, saya sadar. Bukan, Alya bukan sengaja memecahkan telur untuk menguji kesabaran saya. Ia hanya salah mengira telur mentah sebagai telur rebus, yang memang secara visual sama. Dan Alya hanya ingin makan telur rebus, mengupasnya sendiri, dengan cara menghentakkannya terlebih dahulu untuk membuat retakan pertama, seperti yang biasa ia lakukan.

Sangat wajar, bukan?

Jadi, mari kita sejenak menahan diri dari memberikan respon gegabah. Mari ambil jeda waktu sejenak, beberapa detik saja, untuk berpikir, bernafas, dan memilih langkah selanjutnya dengan sadar.

Ah, terima kasih untuk pelajarannya hari ini, Alya. Semoga ibu bisa terus berbaik sangka dan memahami kebutuhan Alya. 🙂

Image source here

Advertisements