[The Wedding Journal] A Glimpse about Papeneri

Assalamu’alaikum dear bride to be? Apa kabar? Semoga segala usaha untuk menggenapkan separuh agama senantiasa dilancarkan dan diberkahi Allah SWT. Aamiin.

Ternyata sudah cukup lama blog ini ditinggalkan ya. Sudah lebih dari dua bulan sejak entri terakhir tentang Review Wedding Cake Billiechick (Lihat Delightful Wedding Cake by Billiechick). Hihi, mohon maaf ya. Ah ya, saya juga mau mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada pembaca setia blog ini (ada ngga ya? Hihi) atas feedback positif yang telah diberikan. Senang sekali rasanya melihat stat blog yang makin hari makin meningkat, juga membaca dan membalas satu per satu setiap email yang mampir ke inbox. Semoga blog ini bisa terus memberikan manfaat 🙂

Di postingan kali ini, saya mau membahas tentang Papeneri, my baby that was born from #DIYBrideProject Paper Flower (Lihat My #DIYBrideProject : Paper Flower Decoration ). Sejujurnya, saya sama sekali tidak menyangka bahwa #DIYBrideProject iseng-iseng waktu itu membawa feedback positif dari kerabat yang hadir pada resepsi pernikahan saya dan Masun tahun lalu. Mulai dari bertanya jenis bahan yang ingin digunakan, toko tempat membeli kertas, sampai menanyakan template kelopak yang saya gunakan.

Karena banyaknya feedback positif dari teman-teman dan kerabat, saya mencoba memberanikan diri untuk membuka usaha paper flower kecil-kecilan. Diawali dengan membantu membuatkan paper flower untuk acara pernikahan seorang sahabat. Ternyata, minat para bride-to-be terhadap dekorasi paper flower cukup besar. Setelah itu pun masih ada lagi yang menanyakan perlihal paper flower dan bahkan memesan.

Akhirnya pada tanggal 7 Januari 2017 kemarin (iya, tanggal cantik 7117, banyak sekali yang menikah pada tanggal itu), bertepatan dengan salah satu event project papeneri, setelah menemukan beberapa supplier kertas dan mengembangkan beberapa pilihan model bunga, kami resmi melaunching Papeneri sebagai lini usaha kami berdua untuk menyediakan paper flower berkualitas dengan harga terjangkau yang dapat digunakan untuk berbagai acara.

logo-papeneri-d-tanpa-background

Kami juga mohon doa dari teman-teman pembaca sekalian, semoga usaha ini menjadi satu langkah baik dan diberkahi Allah SWT. ❤

Boleh diintip produknya, yuk!

m-akasha

Akasha melambangkan kebebasan dan ruang terbuka, seperti kamu yang gemar berpetualang dan mempelajari hal baru. Perluas ruang bertumbuh dengan senantiasa menghargai perbedaan. Tidak harus selalu benar, tidak perlu takut salah, karena semuanya merupakan proses belajar. Teruslah tumbuh, seperti kuncup bunga yang perlahan mekar.

m-ishana

Ishana, dalam bahasa sansekerta berarti kaya. Setiap orang mungkin memiliki cara yang berbeda-beda dalam memaknai kekayaan. Menurut kami, hati yang kaya adalah hati yang senantiasa bersyukur. Bagaimana menurutmu?

m-nitya

Setiap lembar kelopak Nitya berbentuk hati, sebagai lambang cinta yang abadi. Semoga cintamu juga.

m-safira

Safira menyimpan makna istimewa, sebagaimana kami percaya setiap perempuan terlahir istimewa. Maka, tidak perlu membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain. Karena seperti bunga, it doesn’t think of competing with the next flower, it just blooms. Jadilah dirimu sendiri.

m-zanitha

Keanggunan adalah keindahan yang tidak akan pernah pudar. Ia bukan tentang apa yang kau pakai di luar. Lebih dari itu, ia tentang bagaimana dirimu yang sebenarnya dari dalam. Zanitha hadir sebagai lambang keanggunan seorang perempuan, yang terpancar karena keindahan akhlak dan pekerti.

img_5316_1

Papeneri for Photobooth Decoration

Apabila teman-teman disini ada yang berminat, berikut ini official account papeneri :
IG : @papeneri
Line : dmhandayani
FB Page : Papeneri

Semoga bermanfaat, plan every single details of your wedding with love ❤

Dwi Mustika Handayani.

[The Wedding Journal] My #DIYBrideProject : Paper Flower Decoration

Selamat sore, selamat menikmati akhir pekan, selamat melepas penat ya 🙂

Kalau saya sedang merasa lelah dengan aktivitas dan rutinitas yang ada, saya ingat satu pesan suami saya: Apabila kita tidak disibukkan dalam kebaikan, pasti kita disibukkan dalam keburukan. Jadi, bersyukurlah kita yang masih disibukkan dalam kebaikan. Semoga lelah yang dirasakan saat ini, bisa menjadi pemberat amalan baik di akhirat kelak.

Kali ini saya ingin bercerita tentang #DIYBrideProject yang terakhir, yang paling banyak mendapat apresiasi dan paling sering ditanya para tamu, yaitu paper flower decoration.

Akhir-akhir ini, penggunaan paper flower backdrop untuk photobooth sedang marak di kalangan para pengantin. Dengan warna dan model beragam, paper flower backdrop memang bisa membuat foto di hari spesialmu menjadi lebih indah. Saya yang ngakunya suka sekali dengan bunga jelas tidak mau ketinggalan, ingin menghadirkan paper flower di acara pernikahan saya.

Vendor-vendor penyedia jasa pembuatan paper flower pun mulai bermunculan, baik yang masih baru maupun yang sudah terkenal dan professional. Akhirnya saya coba mengontak salah satu pembuat paper flower di Jakarta. Harganya? Alamaaak, sekitar Rp 70.000 untuk ukuran besar (75 cm). Kalau hanya beli satu atau dua sih tidak masalah ya, tetapi kalau beli banyak kan lumayan hehehe.

Karena terpepet budget, saya memutuskan untuk mencoba membuat sendiri paper flower untuk resepsi pernikahan saya. Kenapa ya, manusia itu (saya aja sih) harus kepepet dulu baru kreatif, hahaha. Supaya lebih hemat. Untungnya saya juga termasuk orang yang cukup suka kerajinan tangan, so I am gonna give it a shot.

Satu tantangan lagi bagi saya dalam membuat paper flower ini adalah mencari kertas yang saya inginkan, yaitu kertas fancy berserat berglitter. Iya, sayang sekali saya tidak tahu nama kertas yang saya maksud, hanya berbekal contoh kertas dan berharap tukang kertasnya tahu. And they also have no clue!  Sudah keliling Jakarta (bahkan sampai Sunter) mencari kertas, ke lebih dari 10 toko, tidak juga membuahkan hasil. Akhirnya saya coba menggunakan kertas jasmine yang sering dijadikan bahan dalam pembuatan undangan. Hal baiknya, jenis kertas ini jauh lebih murah. Hehehe.

Saya membeli kertas jasmine di salah satu toko di bilangan Kebayoran. Warna yang saya gunakan adalah peach dan mint (nama asli plasma pink dan plasma blue), masing-masing berukuran A0.

Lem tembak siap, kertas siap. Game on!

Karena weekday saya bekerja dan weekend biasanya diisi oleh persiapan dengan vendor, saya mencicil membuat paper flower pada malam hari sepulang saya bekerja. Setelah proses trial error yang cukup panjang untuk memperoleh shape yang saya inginkan, suami pun saya kerahkan untuk membantu memotong pola hehe. Yes, the real struggle is cutting the petal, btw. Merakit bunganya sendiri cukup cepat, apalagi kalau sudah paham polanya. Kalau malam biasanya saya bisa merakit 5-7 paper flower. Cukup santai dan happy, tidak sampai lembur-lembur. Hehe.

Unfortunately, kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan tangan kiri saya retak membuat saya tidak bisa melanjutkan membuat paper flower. Sehingga, rencana awal untuk memenuhi foyer dengan paper flower harus dibatalkan, diganti dengan hanya menebar paper flower secara acak di sepanjang foyer. Untungnya, jumlah paper flower yang sudah jadi lumayan banyak. Dari dua minggu saya membuat paper flower, sudah lebih dari 50 bunga berbagai ukuran (kecil, besar, sedang) yang sudah selesai dibuat. Dan lucunya, setelah acara resepsi selesai, bunga-bunga kertas ini banyak yang dicopot dan dibawa pulang oleh tamu undangan. Tapi gapapa, saya senang sekali karena artinya para tamu suka dengan bunga-bunga itu. ❤

Berikut ini hasil paper flower nya :

bunga-1

Take a closer look

img_5079

Navy Gold Paper Flower

Bagaimana? Ingin hari istimewamu dilengkapi dengan paper flower manis seperti ini juga? Kindly contact me ya, tangan saya sudah pulih, sudah ada pesanan juga untuk bulan depan. Yay! Semangaaat!!!

P.S : Blooming soon, my paper flower business line.

Semoga bermanfaat ya, plan every single details of your wedding with heart ❤

Dwi Mustika Handayani

[The Wedding Journal] My #DIYBrideProject: Chalkboard Backdrop

Selamat sore, semoga hari-hari penuh deadline ini penuh kelancaran dan kebaikan ya. Alhamdulillah hari ini semua target sudah selesai dikerjakan. 🙂

Langsung saja ya, kali ini saya mau bercerita tentang salah satu #DIYBrideProject yang saya buat untuk hari pernikahan Bulan Mei lalu, yaitu chalkboard backdrop. (Cerita tentang #DIYBrideProject sebelumnya dapat dilihat di My #DIYBrideProject : Souvenir Siraman dan Pengajian) Bagi yang belum pernah mendengar istilah ini, seperti namanya, chalkboard backdrop adalah backdrop menyerupai papan tulis yang biasanya berisi tipografi artistik dan atau lukisan, yang nantinya digunakan untuk berfoto. Penggunaan chalkboard backdrop seringkali dijumpai pada pesta pernikahan barat, terutama yang mengusung tema garden party. Trying to adopt the idea on your wedding? Why not? 

Saya terinspirasi dengan chalkboard backdrop ini awalnya dari instagram milik desainer muda Ayu Dyah Andari. Saat itu, salah satu pengantin yang menggunakan jasa Ayu Dyah Andari, berfoto dengan menggunakan chalkboard backdrop. Karena tertarik dan penasaran, saya mencoba gali lebih dalam tentang cara pembuatan backdrop ini. Ternyata caranya sangat sederhana, yakni menggunakan 2 buah triplek yang disatukan dan dicat hitam. Selanjutnya kita hanya perlu berkreasi sesuka hati menggunakan kapur tulis. Setelah itu, bisa juga ditimpa dengan menggunakan cat putih. Free style!

Berikut ini contoh-contoh inspirasi untuk desain chalkboard backdrop :

Siapa yang jatuh cinta dengan chalkboard-chalkboard di atas? Sayaaa! Dan karena saya ga modal ingin segala sesuatunya penuh kesan, alih-alih memesan jasa pembuatan chalkboard backdrop, saya berencana membuat sendiri chalkboard ini. With a dull skill dan hanya bermodalkan guru-guru dan teman-teman yang sering bilang tulisan saya bagus, I believe in myself.

Saya berencana membuat backdrop ini awal Mei, dua pekan sebelum pernikahan kami digelar. Qadarullah, pekan ketiga April saya mengalami kecelakaan lalu lintas. Tangan kiri saya retak. Rencana pembuatan backdrop ini pun dengan terpaksa harus saya batalkan demi kebaikan saya sendiri. Manusia memang hanya bisa berencana ya, Allah yang berkehendak. Proses pembuatan #DIYBrideProject lainnya, yakni paper flower (ceritanya akan segera menyusul) pun harus terhenti disini. Sedih? Yes. Do I have any reason to be angry with God? No.

Setiap pekan sebelum pernikahan, saya harus melakukan terapi pijat tradisional ke Gunung Bolang. Tangan kiri saya benar-benar tidak dapat melakukan apapun. Gerakan sangat terbatas. Jangankan menyelesaikan pembuatan backdrop ini, berwudhu dengan sempurna pun saya belum bisa.

Tapi, siapa sih yang tidak tahu kalau Tika anaknya keras kepala? Eventhough I know pretty well that I am not capable of making the backdrop, I just can’t erase that idea from my head. Akhirnya sehari sebelum akad nikah, saya meminta tolong kepada Bapak untuk menyiapkan triplek, cat hitam, dan kapur tulis. Padahal hari itu ada acara pengajian pernikahan dan seserahan. Kapan mau buatnya coba?

Alhamdulillah, saya mendapatkan banyak bantuan dari teman Bapak, Om Zul, untuk mengecat triplek menjadi hitam. Dan akhirnya pada malam hari (iya, sebelum besoknya siraman dan akad nikah), saya dan Bapak memasang triplek hitam di salah satu dinding rumah. Say whaaaat?

Sekitar pukul 22.30, saya mulai berkreasi dengan kapur di atas papan hitam tersebut. Tanpa pola awal. Tanpa pensil. Tanpa skets. Langsung kapur. Hanya dengan tangan kanan. Semua keluarga geleng-geleng kepala. Bapak mengawasi selama saya menulis di papan dengan kursi, khawatir saya terjatuh. Ibu berkali-kali menyuruh saya tidur, sambil mesam mesem. Tapi anaknya tetap keukeuh markeukeuh, tidak bergeming. Hehehe.

Alhamdulillah, jam 12 kurang, jadilah chalkboard backdrop ini.

img_6364

Unbelievable!

Ada yang mau dibuatkan kaya gini? Boleh loh, sekarang tangan saya sudah sembuh, dan yang jelas, nanti pasti dibuat sketsnya dulu hehehe.

Semoga bermanfaat, plan every single details of your wedding with heart ❤

Dwi Mustika Handayani

[The Wedding Journal] My #DIYBrideProject : Souvenir Siraman dan Pengajian

Halo bridezillas!

Wedding favor atau souvenir pernikahan merupakan salah satu tradisi dalam pernikahan yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kita kepada para tamu yang telah hadir, memberikan doa, serta membuat acara pernikahan kita menjadi lebih spesial.

Bagi calon pengantin yang menyelenggarakan pernikahan dengan banyak elemen acara di dalamnya, pemberian souvenir ini menjadi to do list yang harus diperhatikan. Pada acara pernikahan saya kemarin, acara terdiri dari pengajian, siraman, akad nikah dan upacara adat panggih, serta resepsi pernikahan. Sehingga kami harus menyiapkan beberapa jenis souvenir, yakni souvenir pengajian, siraman, dan resepsi. Banyak ya?

Preparing your own wedding favor for your spesial moment? Why not?! Selain lebih menghemat biaya, kita juga bisa mencurahkan seluruh kreativitas untuk memberikan souvenir yang bermanfaat dan berkesan. Akhirnya, kemarin pun saya mencoba menyiapkan souvenir untuk pengajian dan siraman pada rangkaian acara pernikahan kami.

Kenapa ga sekalian resepsi juga ? Gempor buuuu undangan resepsi saja sampai 800 hehe.

So…here we go!

Souvenir Pengajian

Ada banyak pilihan barang yang dapat digunakan untuk souvenir pengajian, misalnya tasbih, jilbab/kerudung, sarung, sajadah, dan lain sebagainya. Umumnya, walaupun tidak selalu, pilihan souvenir pengajian adalah benda-benda yang berfungsi untuk aktivitas ibadah. Pilihan kami pun jatuh kepada sajadah batik yang akan dikemas menggunakan customized goodie bag.

Isi : Sajadah batik, beli grosir di Tanah Abang (tadinya mau beli di Jogja sekalian tetapi tidak sempat)
Packaging : Goodie bag cokelat polos, dengan pita satin, doily paper, dan sticker of my own design.
Tools you may need : gunting, double tape.

Untuk stickernya, saya mendesain sendiri kemudian dicetak dengan digital printing menggunakan kertas sticker.

Berikut ini hasil packaging sebelum diisi sajadah  batik 🙂

IMG-20160117-WA0019

Tinggal diisi dalamnya. Rapi, sederhana, tapi manis  ❤

img_4336

Souvenir pengajian saat dibagikan

Souvenir Siraman

Pada acara siraman pengantin adat Jawa, souvenir diberikan kepada para sesepuh yang telah selesai menyiram calon pengantin. Sebenarnya, saat ini sudah banyak sekali vendor jasa pembuatan souvenir siraman. Tetapi kami benar-benar ingin souvenir yang bermanfaat. Sederhana saja, tidak perlu banyak, asal dipakai. Umumnya souvenir siraman berisi handuk sebesar sapu tangan, sabun (sabun batang, cair, atau sabun kertas), sisir, cermin. Pengalaman kami dari menerima souvenir seperti ini adalah pada akhirnya souvenir tersebut hanya tersimpan rapi dan tidak digunakan. Handuknya pun belum tentu dapat digunakan karena kurang fungsional. Apabila memesan handuk yang lebih besar, pastinya harga akan menyesuaikan, dan itu lumayan, hehe. Akhirnya kami memutuskan untuk memberikan souvenir handuk, dengan kemasan yang disiapkan sendiri.

Isi : Handuk Terry Palmer 50 x 100 cm, beli di Mangga Dua
Packaging : Mika tabung, pita jepang, doily paper, dan sticker of my own design.
Tools you may need : gunting, double tape.

Berikut ini hasilnya 🙂

IMG-20160117-WA0007IMG-20160117-WA0010IMG-20160117-WA0011

Alhamdulillah kami puas banget dengan hasilnya. Selain lebih hemat, insyaAllah lebih berkesan, karena ada cinta dalam setiap proses pembuatannya. ❤

Semoga bermanfaat, plan every single details of your wedding with heart 🙂

Dwi Mustika Handayani