Pengalaman IELTS Preparation di IALF Jakarta

Selamat siang, happy weekend everyone!

Kalau teman-teman pembaca menyadari, judul blog ini sudah tidak lagi The Wedding Journal. Kenapa ya? Alasannya sederhana, karena saya ingin memberikan kebermanfaatan blog ini seluas-luasnya, berbagi sebanyak-banyaknya, tidak terbatas pada hal-hal terkait persiapan pernikahan saja. Insyaallah. Tulisan persiapan pernikahan tetap bisa diakses di menu The Wedding Journal yang ada di top bar halaman ini ya 🙂

Kali ini saya ingin bercerita pengalaman saya dan suami mengikuti kursus IELTS Preparation di IALF Jakarta. Awalnya ada beberapa lembaga yang saya lirik untuk ambil IELTS Prep, di antaranya adalah British Council, IDP Education, dan IALF (Indonesia-Australia Language Foundation). Alternatif lain adalah Kaplan BSD, The British Institute, atau LBI UI Depok.

Kami fokus untuk mencari informasi mengenai 3 lembaga pertama karena lembaga-lembaga tersebut merupakan lembaga resmi yang menyelenggarakan Tes IELTS di Indonesia, sehingga kami (langsung saja) percaya bahwa proses belajar akan didukung oleh pengajar yang kompeten dan memiliki standar. Hehe, alasannya mainstream ya, padahal bagaimanapun sebuah lembaga hanyalah merupakan kendaraan atau fasilitas, sementara proses belajar kembali lagi kepada individu masing-masing.

Ternyata British Council tidak memiliki kelas khusus persiapan IELTS, tetapi hanya kelas General English yang di dalamnya mencakup materi-materi IELTS. Sementara IDP juga hanya menyediakan workshop intensif yang dilakukan di hari kerja, sisanya hanya kelas dan materi online di web. Sehingga, karena kami butuh kelas yang intensif persiapan IELTS dan rutin di luar hari kerja, kami memutuskan untuk mengambil kelas IELTS di IALF Jakarta. Saya pun mendapat rekomendasi dari seorang sahabat yang pernah mengambil kelas disana. Ulasan-ulasan mengenai lembaga ini di blog-blog lain juga sangat baik.

Kami memutuskan untuk mengambil kelas Semi-Intensive IELTS Prep (50 jam) di hari Sabtu selama 8 minggu dengan biaya Rp 4.800.000/orang. Persyaratan untuk dapat mendaftar ke kelas ini adalah mengikuti placement test dan mendapatkan hasil minimum Pre Intermediete level. Biaya yang dibutuhkan untuk mengambil placement test adalah Rp 100.000 per orang. Tes dilakukan di perpustakaan IALF dan terdiri dari 50 soal pilihan ganda dengan waktu pengerjaan 1 jam. Hasil tes akan keluar saat itu juga, sehingga hanya perlu menunggu sebentar, dan kalau lulus bisa langsung mendaftar kelas.

Alhamdulillah saat itu kami berdua sama-sama bisa langsung mendaftar kelas, sehingga kami langsung mendaftar untuk kelas Sabtu. Ternyata cukup panjang waiting listnya, saat itu bulan Februari dan kami kemungkinan baru bisa mendapatkan kelas Maret atau April. Saat itu kami masuk urutan waiting list ke 90an, mungkin karena banyaknya peminat yang sedang melakukan persiapan untuk beasiswa juga ya, hehehe. Karena masih belum jelas akan bisa bergabung di kelas yang mana, pembayaran baru bisa dilakukan setelah kami mendapatkan info mengenai ketersediaan kelas. Akhirnya pada tanggal 21 Maret, kami mendapatkan kelas yang akan dimulai tanggal 1 April – 27 Mei 2017.

Kami masuk ke kelas yang sama. Jumlah siswa di kelas Semi-Intensive ini adalah 15 orang dan kebanyakan adalah perempuan. Rata-rata yang mengambil kelas ini adalah mereka yang mau melanjutkan studi ke luar negeri. Usianya sepantaran kami sih, tidak ada yang terlalu tua maupun terlalu muda. Paling muda adalah mahasiswa yang masih kuliah sarjana. Selama 2 bulan kami belajar dengan tenaga pengajar native asal UK, namanya Paul. Untuk pengajar di IALF memang sepertinya semuanya native, dan banyak di antara mereka memang tersertifikasi sebagai examiner IELTS. Waktu saya lagi tes IELTS juga saya ketemu dengan Paul yang sedang menguji tes speaking di ruangan sebelah. Hehe. Jadi kita benar-benar belajar dari ahlinya, serta sedikit banyak mengerti apa yang diharapkan dan pola pikir examiner dari setiap section (terutama writing dan speaking).

Saya pribadi merasa puas belajar disini. Metodenya menyenangkan dan tidak membosankan, walaupun suasana kelasnya tidak seseru waktu saya kursus bahasa Jerman dulu. Orang-orangnya cenderung seragam, mungkin karena latar belakang yang cenderung mirip atau karena perbedaan usianya yang tidak terpaut terlalu jauh. Haha Jadi kelas ini agak serius dan orangnya pintar-pintar (jadi ga banyak yang nanya-nanya hehe). Okelah, yuk belajar yang serius 🙂

Dari Paul sendiri, dia memiliki metode mengajar yang menyenangkan. Terkadang kita harus berputar – putar sekeliling kelas untuk mengerjakan heading matching, atau kerja kelompok, atau main game sederhana untuk melatih speaking, bermain dengan dadu, latihan interview dengan que card, dan lain sebagainya. Hampir setiap pertemuan Paul akan memulai dengan brainstorming topik-topik yang sedang hangat dan sering muncul di tipe-tipe soal IELTS. So overall, seru sih!

IMG-20170527-WA0001[1]

Last day!

Saya ingin coba mengulas model belajar disini untuk masing-masing aspek dalam ujian IELTS ya..

  • Reading
    Kami sering sekali diberikan PR reading, serius hampir setiap minggu ada PR, bisa 1-2 passage. Di kelas kami pun sering berlatih mengerjakan reading. Tips-tips dari Paul tentang cara mencari jawaban reading juga useful menurut saya.

 

  • Writing
    PR untuk writing tidak sebanyak dan sesering reading. Tetapi dari PR tersebut, kami diberikan feedback secara personal untuk setiap aspek dalam penilaian tes IELTS, sehingga kami belajar kesalahan kami, mana yang kurang tepat, mana yang sudah oke, mana yang perlu ditingkatkan. Untuk writing kami juga sering berliatih di kelas dalam bentuk peer group (2-3 orang), dan tetap diberi feedback. Hasil kerja bersama kelompok biasanya akan dibuatkan copyannya oleh Paul, sehingga setiap orang tetap memegang hasil pekerjaannya. Menurut saya pribadi, writing ini merupakan section test yang paling membutuhkan strategi yang matang dan penguasaan yang baik, sehingga ke empat aspek penilaian IELTS writing (task achivement, coherence, lexical resource, grammatical range and accuracy)  harus benar-benar diperhatikan.

 

  • Listening
    Listening juga lebih sering dilakukan di kelas. Paul mengajarkan kita untuk bisa memprediksi distractor2 apa saja yang mungkin akan mengecoh kita dari jawaban yang benar (ini penting sih!), karena listening itu bukan sekedar mendengar sepenggal-sepenggal informasi, tetapi memahami secara utuh. Remember, just because you hear it, doesn’t mean it is the correct answer!

 

  • Speaking
    Ini aspek IELTS yang belajarnya paling sering menggunakan permainan interaktif. Seperti yang sudah disebutkan di awal tadi, seperti latihan tanya jawab menggunakan form/que card, latihan bercerita dengan diberi waktu, dll. Kadang juga ada tools tambahan seperti dadu, pion, dan bahkan sodet plastik. Hehe. Jadi interaksi dengan teman lebih banyak di section pembelajaran yang ini. Disinilah kita dilatih untuk percaya diri dan belajar dari teman-teman yang lain. Yang berbicaranya lebih fluent, yang kontrol terhadap struktur dan grammarnya baik, yang penguasaan lexicalnya juga lebih luas. Hebat2 deh! Kami saling bertukar ide dan saling support disini. Bahkan saling memberikan feedback. Sementara Paul hanya menyimak, memantau, dan sesekali memberikan feedback karena he obviously only has 2 ears. Meskipun demikian, jangan khawatir, masing-masing dari kami juga diberi kesempatan untuk melakukan 1 sesi simulasi tes speaking (MOCK Test) dengan Paul secara personal, dimana Paul berperan sebagai examiner. Disini feedback-feedback yang diberikan oleh Paul juga sangat detail. Bahkan saya masih simpan rekamannya, itung-itung kenang-kenangan. Hehehe.

Ujiannya diadakan 2 kali yakni saat mid term dan saat end term. Saat mid term tes nya berupa full listening + reading, ditambah writing section 1 only (karena belum banyak menyentuh section 2). Sementara untuk end term, full listening + reading + writing. Untuk speaking hanya dilakukan satu kali per orang, sesuai dengan jadwal (dalam satu hari ada sekitar 3 orang yang simulasi tes speaking).

Berbicara tentang fasilitas, fasilitas di IALF ini sangat lengkap. Selain study room, ada common room tempat kita makan dan bersantai (free drinking water and coffee!), computer room yang dilengkapi headset setiap unit, auditorium tempat tes IELTS dilaksanakan, dan juga perpustakaan yang super lengkap. Ohya, saran saya bagi teman-teman yang berencana kursus di IALF, manfaatkan betul perpustakaannya ya, karena buku buku ELT (English Language Training) dan Referencenya bagus bagus, jarang dijumpai di toko-toko buku yang umum. Kita juga bisa meminjam CD Audio untuk buku-buku yang memiliki Audio. Jadi selagi masih menjadi student disana, manfaatkan resource yang ada sebaik mungkin hehe.

Untuk buku, IALF tidak memberikan 1 buku untuk dijadikan pegangan kita. Setiap pertemuan, kita akan diberikan modul-modul kertas yang dapat kita masukkan ke binder yang diberikan di pertemuan pertama. Alasannya, karena tidak semua buku cocok dengan apa yang kita butuhkan. Jadi sistemnya adalah mengambil yang baik-baik dan dibutuhkan dari beragam buku.

Demikian, semoga bermanfaat, dan selamat belajar!
Featured image source

Dwi Mustika Handayani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s