[The Wedding Journal] Proposal

Sembunyikan lamaran, umumkan pernikahan

Kenapa?

Karena tidak ada satu pun di dunia ini yang menjamin, bahwa pasangan yang sudah melangsungkan lamaran/khitbah, akan selamat sampai pada gerbang pernikahan.

Usia, itu rahasia Allah. Jodoh pun, rahasia Allah. Tidak sedikit pasangan yang akhirnya harus berpisah sebelum ijab qabul, baik karena usia yang tidak sampai, atau hal lain yang membuat hubungan mereka kandas di tengah jalan. Bahkan sedetik sebelum ijab qabul terucap, apapun bisa saja terjadi, kalau Allah menghendaki. Maka islam punya caranya sendiri. Islam menganjurkan kita untuk menyembunyikan perihal lamaran/khitbah.

Apalagi, semakin mendekati akad, syaitan akan semakin gencar menggoda manusia, untuk mengagalkan pernikahan, atau setidaknya mengurangi keberkahannya. Karena bayangkan saja, mitsaaqan ghalizha yang terucap saat akad, bernilai separuh dari agama seorang hamba. Syaitan mana mungkin rela, dia tidak akan tinggal diam.

Sebaliknya, bersatunya dua manusia dalam ikatan pernikahan harus dikabarkan secara luas, mengundang banyak sahabat dari berbagai kalangan. Rasulullah pun menganjurkan kita untuk melakukan walimah, meski hanya dengan menyembelih seekor kambing.

🙂


 

And I want to keep my khitbah simple…

Bagiku, ketika calon suami menyampaikan maksut kepada Bapak untuk menikahiku, dengan adab dan tatacara yang tepat, itu sudah cukup. Tidak perlu ada pesta. Tidak perlu ada tukar cincin.

Namun demikian, kami pun ingin menjadikan momen ini sebagai silaturahmi dua buah keluarga. Maka aku mengundang keluarga terdekat untuk hadir, begitupun calon suami.

Sewaktu suami bertanya mau dibawakan hantaran apa saat lamaran, aku bilang terserah. Tanpa seserahan pun tidak masalah. Itu nanti saja saat akad nikah.

Tapi akhirnya keluarganya memutuskan membawa hantaran makanan dan buah-buahan, untuk menunjukkan itikad baik untuk menyambung silaturahmi kedua keluarga 🙂

Bahkan ada satu hal lagi yang membuat aku cukup bingung. Perlukah aku berias pada saat khitbah ?

Di satu sisi aku merasa nyaman pakai gamis yang bagus dan jilbab sederhana seperti biasanya. Namun di sisi lain, sepertinya merupakan sebuah kepantasan kalau aku berhias pada ocassion ini. Saking bingungnya, setelah menanyakan pendapat kedua orang tua tentang perlunya aku berhias, akhirnya aku pun baru meminta kenalan yang juga memiliki profesi MUA untuk datang merias, dua hari sebelum lamaran.

Acara dimulai pukul sepuluh pagi. Diawali dengan pembukaan, menanyakan maksut kedatangan calon suami dan keluarganya, dilanjutkan dengan wejangan dari Bapak tentang kewajiban menjaga amanah sebagai seorang suami. Setelah Bapak menerima lamaran dari calon suami, acara dilanjutkan dengan ramah-tamah dan makan bersama.

IMG_2977

Acara yang sangat sederhana, bersahaja, singkat, dan hangat.

Alhamdulillah

Khitbah Tika & Sunar
19 April 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s