Why Baby Swimming Class?

Yippie! It’s been a month since Alya joined baby swimming class. Kami mengikutkan Alya ke kelas berenang pada usia 5 bulan 3 minggu, tepatnya, dan memilih ikut kelas berenang sungguhan dimana bayi benar-benar masuk ke kolam renang bersama orangtua, tanpa pelampung badan atau pelampung leher.

Ngeri? Kok anak masih 5-6 bulan diikutin berenang? Yakin aman? Kalau kenapa-kenapa, gimana?

Sebentar.. sebentar..

Karena yang paling penting dalam setiap pengambilan keputusan adalah the “WHY?” factor, mari kita flashback sebentar.. bagaimana sih sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk ikutan baby swimming class. Sambil ngopi bacanya, boleh..

Ketika berat badan Alya menginjak angka 5kg, kami mulai tertarik untuk mengajak Alya berenang di baby spa. Teman-teman disini pasti sudah familiar dengan baby spa, dimana anak berenang di bak dengan menggunakan neck ring. Gemas yaaa, melihat kaki dan tangannya bergerak lincah di dalam air… Aku juga tidak sabar ingin segera mengajak Alya baby spa. Rencananya saat Alya berusia 3 bulan saja..

Sebelumnya, tentu saja aku dan suami harus research dulu mengenai ini. Tujuannya supaya mendapatkan alasan yang kuat, mencari the WHY factor. Kenapa harus, apa manfaatnya? Seberapa besar manfaatnya, berapa costnya, dlsb. Saat itu kami sudah tau mau mengajak kemana, dan harganya berapa. Tinggal meyakinkan diri bahwa Alya benar-benar akan mendapatkan manfaat yang besar dari aktivitas ini. Tapi entah kenapa aku sedikit ragu tentang keamanan neck ring yang digunakan, mengingat bayi belum bisa menahan berat badan sendiri. Artinya, seluruh berat badan akan terpusat di leher ya?

Mulailah kami meriset tentang keamanan neck ring ini. Usut punya usut (haha), ternyata, tidak ada satu pun swimming expert yang menyatakan bahwa neck ring ini aman! O.. ow… ibu jadi galau. Berikut ini aku cantumkan beberapa pendapat para expert, dilansir dari sini..

“There are no proven benefits to using the inflatable neck rings and there is risk associated with them,” Sarah Denny, MD, pediatrician, Nationwide Children’s Hospital, Columbus, Ohio

Terkait strain pada leher bayi :

“The ring could also potentially put strain on a baby’s neck, which could cause injury”, Sarah Denny, MD

Instruktur renang juga tidak merekomendasikan penggunaan neck ring terkait keselamatan.

“We wouldn’t recommend that you use them,” says Lisa Zarda, executive director of the U.S. Swim School Association. “It should be more about you being in the water with the children.”

Tambahan dari situs ini.

“A neck ring creates a vacuum where the baby is incapacitated and cannot connect with anyone or anything. There are no safe boundaries to touch or feel. Self-expression through body language, which the water ideally facilitates, is lost because movements are restricted.”  Shawn Tomlinson, Birthlight and STA baby swimming tutor

Kesimpulan yang saya dapatkan adalah, penggunaan neck ring ini, walaupun masih banyak digunakan, tidak direkomendasikan baik oleh pediatrician maupun certified swimming instructor, karena justru berbahaya bagi bayi. Well, mungkin kalau digunakan di babyspa yang diawasi, di bak kecil air hangat, hal ini tidak terlalu masalah. Concernnya tinggal pada tekanan yang diberikan pada leher, yang mungkin masih bisa dipantau dari sisi durasi dan frekuensi penggunaan neck ring tersebut. Namun, setelah kami pikir-pikir lagi, apalagi menimbang manfaat dari segi fisik dan emosional, kenapa tidak sekalian saja melatih water safety pada bayi melalui kegiatan berenang? Apalagi selain untuk menstimulasi motorik dan koordinasi pada bayi, kegiatan ini juga bisa menjadi bonding time dengan orang tua karena berenang bersama (tidak hanya menonton dari sisi kolam/bak). Sepertinya, akan lebih banyak manfaat yang didapatkan, dengan biaya yang kurang lebih sama (ujung ujungnya.. economically speaking). =)

IMG_20180708_093417
Belajar backfloating, salah satu skill mendasar dalam water survival.

Akhirnya, kami sepakat dan yakin untuk mengikutkan Alya ke baby swimming class!

Kami mempercayakan pada @splishsplashid untuk kegiatan berenang ini. Alasannya karena dilatih oleh certified instructor dengan biaya yang cukup terjangkau, dan lokasinya accessible.

Yang perlu diperhatikan ketika mulai mengajak berenang adalah..

  1. Do not expect too much!
    Jangan berharap anak tiba-tiba bisa menyelam ke dalam air dengan lincah pada pertemuan pertama. Keep in mind that momen berenang ini adalah momen yang menyenangkan bagi kalian dan bayi. Sambil bernyanyi, peluk, cium, tertawa! Have fun and enjoy the process =)
  2. Be brave and give example
    Karena aktivitas berenang merupakan hal yang baru bagi anak, selalu berikan contoh yang baik. Kita perlu memasukkan kepala lebih dulu ke dalam air sebelum mengajak anak memasukkan kepalanya. Masuk ke kolam lebih dulu sebelum mengajak anak masuk ke dalam kolam. And be brave, moms and dads! Bukankah anak sangat tune in dengan emosi orang tuanya? Jika orangtuanya saja tidak yakin, ragu-ragu, atau takut, apalagi anaknya… hehe.
  3. Safety first.
    Mengenalkan cara turun ke kolam renang dan naik dari kolam renang yang benar dan aman. Hal ini dilakukan secara rutin dan berulang supaya terekam pada diri anak, oh seperti ini ya SOP yang benar ketika akan mulai dan selesai berenang.
  4. Cues!
    Seperti hal nya anak perlu tanda untuk makan atau untuk tidur, anak juga perlu tanda ketika mau berenang dan beraktivitas dengan air. Tanda ini bisa berbeda-beda untuk setiap anak, tergantung orang tuanya maunya bagaimana. Bebas, yang penting konsisten. Misalnya, kalau aku dan Alya tandanya adalah = “Ready… satu, dua, tiga!”, dan konsisten selalu menggunakan tanda itu. Sesaat setelah hitungan tiga, tiup wajah anak (blow) supaya anak memejamkan mata dan belajar untuk hold breathe. Aku percaya anak bayi itu sangat cerdas. Setelah diajarkan tanda seperti itu, sekarang… belum sampai aku blow, bahkan sebelum hitungan tiga, Alya sudah mengambil ancang ancang entah itu merentangkan tangan atau memejamkan mata. Yes, she understands!
  5. Step by step introduction.
    Bagi bayi yang biasanya mandi dengan air hangat, biasanya mereka perlu berlatih merasakan air yang lebih dingin. Aku mulai menurunkan suhu air mandi Alya sejak Alya berusia 5 bulan, sehingga ketika waktunya berenang,Alya sudah mulai terbiasa perlahan. Pengenalan air juga bisa dilakukan dengan cara mengguyur kepalanya ketika sedang mandi, dengan tetap diawali dengan cues nya. Selain itu, banyak juga aktivitas lain untuk pengenalan dengan air, misalnya sambil bernyanyi dan bergerak bersama di dalam air.
  6. Follow the child.
    Sebisa mungkin usahakan anak sudah kenyang dan cukup tidur ketika mau berenang. Namun kalau dia sudah menunjukkan tanda-tanda lelah, mengantuk, lapar, atau kedinginan… segera berhentilah =)

Swim, baby swim! Video by @splishsplashid

Advertisements

Balada Mencari Obsgyn dan Review RS di Tangsel

Assalamualaikum wr. wb

Salah satu hal yang langsung saya pikirkan ketika mengetahui saya positif hamil menurut test pack adalah memilih healthcare provider. Lahiran dimana, dengan dokter siapa, RS dan dokter mana ya yang pro normal? Mencari healthcare provider harus dilakukan secara cermat dan hati-hati mengingat banyaknya proses melahirkan SC tanpa disertai alasan yang kuat dan pemberian susu formula tanpa indikasi medis oleh pihak RS pada bayi baru lahir. Sebagai calon ibu baru untuk pertama kalinya, tentunya saya ingin mengusahakan proses kelahiran yang normal dan alami, serta mengupayakan pemberian ASI eksklusif.

Beberapa hal yang saya perhatikan dalam memilih healthcare provider di antaranya adalah

  • RS ramah ibu dan anak, pro melahirkan normal, pro ASI.
  • Dokter, yang perempuan dan pro normal.
  • Kamar dengan 1 pasien saja.
  • Bayi bisa langsung rooming in setelah observasi.

Empat poin ini menurut saya yang paling penting. Sisanya adalah fasilitas, suasana, dan tentunya… harga LOL #klasik.

Dalam perjalanan mencari healthcare provider, saya mengalami dilema-dilema dan galau. Ada yang sreg sama RSnya tetapi tidak cocok dengan dokternya, ada yang cocok dengan dokter tapi kurang cocok dengan RS nya….

Jadi, berikut ini rangkuman seluk beluk perjalanan saya mencari healthcare provider :
Warning! Long post alert

1. RS Hermina Serpong dengan dr. Meutia Ria Octaviana, Sp.OG

Di daerah Pamulang, rumah sakit ini merupakan yang terdekat dari rumah saya. Kakak teman saya juga pernah melahirkan prematur normal di RS ini. Awalnya saya pikir Hermina Serpong adalah RSIA tapi ternyata RS umum. Saat pertama kali masuk ke RS, saya merasa kurang nyaman dengan suasana RSnya entah kenapa hehe mungkin karena bangunannya terlihat seperti bangunan lama ya, dan agak gelap gitu.. tapi enaknya di RS ini, pendaftaran dapat dilakukan by phone berikut urutannya.

Dokter

Karena ini merupakan kontrol pertama dan USG di perut kurang bisa mengamati janinnya, dilakukan pemeriksaan USG Transvaginal. Bagi saya yang pertama kali hamil… melihat alat seperti itu dan dimasukkan ke dalam vagina membuat saya takut sekali. Alhasil, saya merasa kesakitan. Baru sedikit dimasukkan saya langsung mengerang dan mengangkat pinggul haha, padahal tidak boleh. Saat itu dr. Meutia tegas sekali mengatakan saya ga boleh angkat pinggul karena akan makin sakit dst. Sebenarnya benar sih yang dr. Meutia bilang, sayanya aja yang bandel dan lemah. Tapi karena saat itu saya lagi kesakitan banget sampai ingin menangis, saya merasa dr. Meutia galak :(. Terlepas dari proses USG Transvaginal yang aduhai itu, penjelasan dr. Meutia sangatlah clear, jelas, dan luas. Saya juga merasa puas dengan penjelasannya.

Tapi kemudian saya berpikir, ketika melahirkan nanti mungkin saja saya akan menghadapi hal-hal yang tidak nyaman juga dan untuk itu, saya berharap ditangani dokter yang sabar dan bisa menenangkan saya yang.. yah beginilah haha. Dan karena baru pertama kali kontrol, saya masih ingin mencari second, third, and so on option to be certain.

Biaya Persalinan
Screenshot_20180324-141209
Berikut ini biaya persalinan di RS Hermina Serpong, normalnya aja mahal yes?

Fasilitas Rawat Inap dan Persalinan

Tidak sempat melakukan tour RS. Kalau dari ruang kontrol Obsgyn nya, menurut saya pribadi kurang nyaman.

2. RSIA Buah Hati dengan dr. E. Rohati, Sp.OG

RS ini merupakan salah satu rumah sakit ibu anak yang terkenal ramah ibu dan anak di daerah Tangsel. Saat pertama kali saya masuk, memang ramai sekali, banyak anak-anak. Pendaftaran di RS ini juga dapat dilakukan by phone berikut urutannya. Selain itu, RS ini juga menyediakan kelas senam hamil.

Dokter

Dokter Rohati merupakan satu-satunya dokter Sp.OG perempuan di RSIA Buah Hati. Dokter lain yang terkenal di RS ini di antaranya adalah dr. Mukhlis yang merupakan owner RS ini dan dr. Ismail. Kontrol kehamilan dengan dr. Rohati sangat kurang memuaskan menurut saya karena terkesan terlalu terburu-buru. Beliau juga tidak banyak memberi ruang bagi kami untuk bertanya, padahal sebagai calon ortu untuk pertama kalinya, tentu banyak sekali yang ingin kami tanyakan. Tapi suami sih cuek aja dia tetap bertanya hehehe, saya sampai 3 kali batal berjabat tangan karena suami saya terus bertanya.

Biaya Persalinan

Saya belum sempat menanyakan biaya persalinan ke bagian administrasi, tapi saya dapat dokumen ini dari sini, referensi biaya tahun 2015.

bersalin-di-rsia-buah-hati-pamulang-5

Fasilitas Rawat Inap dan Persalinan

Belum sempat melakukan tour RS, tapi kalau ruangan kontrolnya cute dan menyenangkan gitu nuansanya ungu heheh. Kalau ruang tunggunya kursi tunggu yang terbuat dari sofa.

3. RS Permata Pamulang dengan dr. Teti, Sp.OG & dr. Neni Anggraeni, Sp.OG

Rumah sakit ini bisa dibilang besar dibanding RS lain di bilangan Pamulang, kalau tidak salah rumah sakit ini sudah berdiri cukup lama. Rumah sakitnya nyaman dan bersih, juga tidak terlalu ramai. Walaupun pendaftaran hanya dapat dilakukan per kedatangan, tidak masalah karena antriannya seringnya tidak terlalu panjang.

Dokter

1. dr. Teti Ernawati, Sp.OG
Saya mendapat rekomendasi beliau dari 2 teman saya yang melakukan pemeriksaan kehamilan dengan dr. Teti, testimonialnya cukup menyenangkan dan beliau juga lulusan UI. Ya.. walaupun saya ga berpatok ke almamater juga sih selama mencari Obsgyn hehehe. Teman saya yang pertama melakukan pemeriksaan di RS UIN Syarif Hidayatullah, sementara yang satunya lagi di RS Permata Pamulang. Jadwal dr. Teti di RS Permata umumnya sore dan malam hari, karena siangnya dr. Teti banyak praktik di RS UIN Syarif Hidayatullah. Bisa dibilang saya kecewa kontrol dengan dr. Teti karena beliau datang sangat terlambat. Saya datang jam 7 malam sesuai jam praktiknya, namun dokter baru tiba jam 11 malam. Saya pun baru kedapatan giliran pukul setengah 12 malam. Saya berharap kontrol dokternya bisa memuaskan untuk mengurangi kekecewaan saya, namun saya kembali kecewa karena dokternya memeriksa sambil mengantuk dan bahkan sempat hilang fokus saat berusaha menuliskan resep vitamin. Ya maklum saja, secara jam setengah 12 malam. Tapi kalau beliau tepat waktu, tidak perlu sampai selarut itu kan?

2. dr. Neni Anggraeni, Sp.OG
Setelah dari dr. Teti, pada control selanjutnya saya mengunjungi dr.Neni. Dokternya masih muda, cantik, dan berjilbab. Penjelasannya cukup menyenangkan dan menenangkan, akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan kontrol dengan dr. Neni. Ketika saya flu parah, dr. Neni memberikan saya obat influenza yang aman untuk ibu hamil. Di pertengahan jalan, saya mengalami radang hemorrhoid / ambeien / wasir. Jadi sebelum saya hamil, saya memang sudah mempunyai hemorrhoid yang keluar setiap kali saya buang air besar, dan tetap bisa saya masukkan kembali. Namun kali ini, hemorrhoid saya terasa sangat sakit dan sulit sekali dimasukkan kembali. Setelah saya konsultasikan dengan dr. Neni, beliau memberi saya betadine sugar untuk mengompres hemorrhoid. Sebelumnya saya sempat baca-baca di internet beberapa yang mengalami hemorrhoid dan berujung SC. Namun menurut dr.Neni, adanya hemorrhoid tersebut tidak menghalangi persalinan normal. Kan jalurnya beda, katanya. Akhirnya saya tenang dan merasa dr.Neni akan mendukung persalinan normal.

Saya berhenti kontrol dengan beliau di minggu ke 36 kehamilan, setelah saya dirawat di RS tersebut untuk observasi DJJ. Menurut dr.Neni, DJJ saya rendah dan tersuspect bradycardia. Setahu saya, DJJ normal berkisar antara 120-160. Saat itu DJJ saya berkisar antara 120-130, dan 130-140 saat janin bergerak. Janin pun masih bergerak dengan aktif. Tapi menurut dr. Neni baselinenya masih sangat rencah sehingga saya diminta untuk dirawat supaya dapat dilakukan observasi. Nah, sempat ada perawat yang mengatakan bahwa kalau DJJ nya rendah, dan sekiranya berbahaya, perlu dilakukan terminasi kehamilan dengan SC. Hmm saya galau, saya merasa sehat, kehamilan  sehat, bayi aktif, dan DJJ masih dalam batas normal meskipun berada di batas bawah. Saya pun sudah sempat diberikan obat penguat paru yang berdasarkan literature yang saya baca, diberikan apabila kehamilan diterminasi sebelum 37 minggu. Saya khawatir akan adanya terminasi ini. Akhirnya karena merasa kehamilan saya baik-baik saja, saya minta pulang ke rumah. Suami pun diminta menandatangani surat pernyataan bahwa kami pulang atas permintaan sendiri.

Saya diminta untuk kontrol 3 hari kemudian. Tapi saya kabur, ga kembali lagi. HAHAHA!

Biaya Persalinan

Berikut yaaa

 

This slideshow requires JavaScript.

Fasilitas Rawat Inap dan Persalinan

Ruang VK dan Perina terletak di Lantai 2. Hanya ada 1 ruang rawat inap VIP di lantai 2, letaknya bersebelahan dengan ruang VK. Jadi apabila ruang perawatan VIP ini sudah terisi dan kita tetap ingin ada di lantai tersebut, kita akan dipindahkan ke ruang perawatan kelas di bawahnya. Ruangannya juga cukup luas dan kamar mandinya nyaman dengan nuansa warna orange. Kita juga bisa memilih ruang perawatan di lantai lain / umum, di luar poli kebidanan, namun konsekuensinya adalah berbeda lantai dengan ruang persalinan.

  1. RSIA Vitalaya dengan dr. Saverina Adella, Sp.OG

Saya akhirnya melakukan persalinan di rumah sakit ini dengan dokter Della (Baca juga Selamat Datang Permata! Alya’s Birth Story). Rumah sakit ini sebenarnya sudah cukup lama, dan sekarang RSIA Vitalaya sudah membangun gedung baru sehingga lebih besar. Dibandingkan dengan RS lain sih memang tidak terlalu besar. Tidak ada tempat parkir mobil di depan RS sehingga jika ingin parkir harus di pinggir jalan atau masuk ke gang di sebelah RS. Owner dari rumah sakit ini adalah bidan Vivi yang terkenal sangat pro persalinan normal. RS nya juga cukup bersih, namun medical recordnya masih sangat konvensional, hanya menggunakan kertas dan map plastik gitu. Sayangnya lagi, sekarang sudah tidak bisa lagi mendaftar by phone, dan antriannya itu puanjaaaang sekali hehe. Kalau dulu saya masih bisa by phone. Ruang tunggunya sempit namun lumayan nyaman karena menggunakan sofa. Saran saya, bawalah buku atau apapun yang bisa menghibur teman-teman saat menunggu. Saking lama antrinya, saya juga sering gofood ke RS ketika sedang mengantri hehe.

RS ini juga menyediakan layanan senam hamil 2 kali seminggu, dengan biaya Rp.300.000 yang berlaku mulai dari usia kehamilan 30 minggu hingga persalinan. Enak ya? Tapi saya tidak sempat ikut senam hamil disini karena jadwal weekendnya bentrok dengan jadwal Prenatal Yoga saya di Nujuh Bulan Studio (Baca juga Tetap Bugar selama Kehamilan dengan Prenatal Yoga).

Lanjut ke reviewnya ya..

Dokter

Saya mulai control ke dr.Della sejak usia kehamilan 29-30 minggu, hanya untuk melakukan USG 4D dan kembali lagi dengan dr Della pada usia kehamilan 36 minggu. Dr. Della sangat ramah, meskipun saya biasanya dapat nomor antrian akhir, beliau tetap murah senyum. Selalu membaca bismillah sebelum memeriksa saya. Beliau juga mau menjelaskan beberapa pertanyaan saya yang mulai mengarah ke arah medis banget karena ingin tahu dan penasaran haha. Beliau juga tidak mempermasalahkan hemorrhoid saya dan menyatakan bahwa hemorrhoid saya normal terjadi pada ibu hamil dan dapat diobati pasca persalinan. Saya percaya beliau ramah ibu hamil dan bayi karena beliau sangat jarang melakukan pemeriksaan dalam (seperti periksa panggul dan jalan lahir) dan tidak memberikan obat pencahar ketika persalinan. Terus bagaimana memeriksa apakah kepala adik bayi sudah turun ke panggul? Beliau melihatnya dari hasil USG 4D walaupun saat itu saya hanya kontrol dengan USG 2D biasa, jadi kaya diintipin 4D nya gitu hehe dan tidak dikenakan charge tambahan. Tapi, selama saya kontrol dengan beliau saya tidak pernah ditanyakan dan ditawari vitamin, ya walaupun vitamin dari kontrol terakhir ke Permata masih bisa digunakan sampai usia kehamilan 40 minggu sih hehe.

Ketika saya masuk rumah sakit lagi di usia kehamilan 36 minggu karena gejala thypus pun, dr. Della masih sangat tenang dan santai sehingga saya merasa dokter seperti beliau lah yang saya butuhkan untuk persalinan nanti. Saya juga merasa beliau cukup considerable dalam memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan intervensi medis.

Biaya Persalinan

Parah sih ini, saya belum pernah menemukan biaya persalinan di rumah sakit yang lebih murah daripada disini! Padahal fasilitas perawatannya okeee.

20180102_141924

Dengan biaya di atas, selain untuk kamar perawatan dan standar biaya tindakan + obat-obatan persalinan, saya juga mendapatkan 1 paket perawatan massage dari Vita Salon pascapersalinan, edukasi breast care, hampers pasca persalinan (berisi popok, pembalut bersalin dan peralatan mandi), serta hampers kepulangan (berisi paket sabun antiseptik, diaper bag carters, peralatan mandi bayi, 1 kaleng susu ibu menyusui, dan 2 kaleng susu formula yang sampai sekarang saya bingung kenapa dikasih padahal kelihatannya RS tersebut pro ASI, dll).

Fasilitas Rawat Inap dan Persalinan.

Untuk kelas perawatan yang 1 pasien / kamar, ada 3 pilihan kamar yakni Rubby B (kelas 1), Rubby A (kelas VIP), dan Suite Room (Kelas VVIP). Enak ya biasanya kelas 1 itu 2 pasien per kamar, tetapi di Vitalaya sudah bisa 1 pasien/kamar.

Interior dan fasilitas ruangannya sangat homey dan ciamiik sekali. RS ini selain memerhatikan fungsi sepertinya juga memperhatikan interior ruangan dan kenyamanan. Saya menemukan beberapa furniture IKEA dalam interiornya. Sebenarnya fasilitas ruang Rubby A dan Rubby B secara umum sama namun luas Rubby A lebih besar daripada Rubby B, furniture yang digunakan berbeda, dan lemari di Rubby A juga lebih luas. Oh ya dalam kelas yang sama juga interiornya bisa beda dengan kamar lain <3.

Fasilitas ruang perawatan Rubby A & B

  • Bed pasien dan side table standard Paramount
  • Kursi berlengan
  • Kursi biasa
  • Sofa panjang
  • Kulkas
  • Kabinet penyimpanan
  • TV
  • Toilet standar dengan shower, WC duduk, air panas
  • Box bayi
  • 1 kardus AQUA gelas

Minus  = tidak ada dispenser. Kalau mau air panas bisa minta termos ke perawat.

Beikut ini foto – foto ruangannya

Rubby A / VIP

 

Dan berikut ini ruang perawatan Rubby A yang saya gunakan ketika bersalin.

20180106_12255220180106_12260520180108_120839

Alasan kenapa saya ambil Rubby A adalah supaya saya dapat menggunakan ruang VK VIP yang ada kamar mandi dalamnya, karena ruang VK kelas 1 kamar mandinya di luar. Dan ini memang sangat nyaman, yang paling saya suka adalah saya bisa membuat lampu temaram dengan hanya menyalakan lampu tinggi di dekat jendela (sepertinya tidak ada di Rubby B tempat saya dirawat saat gejala typhus dulu). Ah, oxytocin booster bangeeet, apalagi ditemani juga dengan aromatherapy yang saya bawa dari rumah ❤

Selanjutnya Suite Room, ruangan ini luasnya sealaihim gambreng! Bisa buat satu keluarga besar dan bawa rombongan terus bikin arisan disini hahaha. Fasilitasnya adalah

  • Bed pasien dan side table standard Paramount
  • Extra bed untuk penunggu/pendamping
  • Lemari, kebinet
  • Set meja makan
  • Kulkas
  • Sofa panjang dan set ruang tamu
  • TV beserta kabinet TV nya. Kalau di Rubby, TV nya dipasang di tembok.
  • Box bayi
  • Toilet standar dengan shower, WC duduk, air panas.
  • Dispenser

Berikut ini foto – fotonya

Kamar Suite Room 1

 

Kamar Suite Room 2

 

Untuk ruang VK, setelah beberapa kali saya survey sepertinya disana ada 4 ruangan.

  • Ruang VK VIP, 1 pasien/kamar, ada kamar mandi dalam dan TV
  • Ruang VK Kelas 1, 1 pasien/kamar
  • Ruang VK Kelas 2/3, 2 pasien/kamar
  • Ruang VK ?, 1 pasien / kamar. Jadi waktu itu aku sempet diperiksa CTG di ruangan ini, kecil banget ruangannya dan hanya 1 bed. Awalnya saya gatau kalau ada ruangan ini.
  1. RSB Sarana Permata Husada dengan dr. Silfiren, Sp.OG

Percaya atau tidak, saya baru control ke RS ini saat usia kehamilan saya 38 weeks! Usia segitu masih aja kepikiran ganti dokter dan RS ya. Soalnya saya orangnya suka gemes kalau masih ada yang ingin dipastikan. Walaupun ujung-ujungnya tidak jadi ke RS ini, saya memutuskan dengan sangat sadar dan yakin dengan apa yang menjadi pilihan saya. Jadi RS ini sudah ada sejak dulu kala, bahkan ibu saya melakukan operasi kuret disini ketika saya kelas 6 SD. RS ini sangat bersih dan bernuansa ungu. Ruang tunggunya kecil tapi bersih dan nyaman, perawatnya juga berseragam ungu, sementara ruang perawatannya bernuansa biru. Namun saya kurang cocok dengan ruang perawatanya dan akses RS nya yang tidak menggunakan lift atau tangga melainkan bidang miring. Kupikir, mungkin karena RS ini awalnya rumah.

Ini adalah satu-satunya RS di daerah Pamulang yang memfasilitasi persalinan di dalam air (waterbirth) dan hypnobirthing. Karenanya, saya menduga barangkali saja RS ini bisa memfasilitasi saya yang ingin melahirkan dengan posisi jongkok, karena RS lain tidak ada yang terbiasa memfasilitasi dengan posisi ini. Eh ternyata sama saja, mungkin karena SOP dari pemerintah ya? Hehe.

Dokter.

Jujur, dr Iren adalah dokter paling ramah dan paling banyak menjelaskan dibandingkan dengan dokter-dokter sebelumnya yang pernah saya kunjungi, bahkan tanpa saya tanya, beliau menjelaskan hal-hal yang sekiranya penting dan perlu saya perhatikan. Suka sekali, beliau juga mau menjelaskan tentang transisi posisi kepala bayi saat proses persalinan, bahwa posisi bayi saya yang saat itu occiput sama sekali tidak bermasalah, justru bagus. Selain itu, beliau sangat gentle ketika melakukan pemeriksaan panggul sehingga saya tidak merasa sakit sedikit pun!

Fasilitas Rawat Inap dan Persalinan.

Pilihan kamar untuk 1 pasien adalah tipe Anggrek (VIP) dan Edelweis (VVIP). Berikut ini foto-fotonya.

Tipe Anggrek

 

Tipe Edelweis

 

Sementara ruang VK, hanya ada 1 ruang VK untuk pasien umum. Ruangannya luas sekali, masih bernuansa biru, dan sudah disediakan gymball dan radio untuk memutar CD relaksasi/hypnobirthing.

Biaya Persalinan

IMG_20171213_193911

Akhirnya, setelah pencarian panjang yang bikin galau ini, saya berencana untuk melakukan persalinan dengan dr. Della di RSIA Vitalaya =)

Demikian, semoga review panjang ini bisa membantu, hehe.

Featured Image Source here

Regards,
Dwi Mustika Handayani

Selamat Datang, Permata! Alya’s Birth Story

Assalamualaikum.

Sudah lama sebenarnya aku ingin menulis cerita kelahiran Alya, namun sayangnya belum sempat. Maklum, ibu baru masih penyesuaian diri, masih berkutat dengan breastfeed, pumping, dan diaper, hehehe. Alhamdulillah akhirnya sempat juga, mumpung ada suami yang jagain Alya hehehe. Berikut ini cerita lengkap bagaimana pada akhirnya aku bisa bertemu dengan Alya, ceritanya dibawa santai aja yaaaaaa……….

30 Desember 2017

Sudah lewat 3 hari dari HPL berdasarkan HPHT, namun usia kehamilan menurut USG dengan dr. Della masih berkisar di angka 38-39 minggu. Anehnya, dari 3 dokter di 3 rumah sakit berbeda, hanya USG di dr. Della yang memiliki perbedaan usia kehamilan cukup signifikan dengan usia kehamilan berdasarkan HPHT. Di satu sisi aku bersyukur, karena kelihatannya perbedaan ini justru mengurangi ruang dokter untuk melakukan intervensi kehamilan.Jadi tidak diburu-buru untuk segera dilahirkan, hehe.

Hari ini kami pun kontrol kehamilan seperti biasa. Hasil USG menunjukkan usia kehamilan 39 minggu, artinya masih ada waktu 1 minggu lagi sampai ke HPL. Semua perangkat rahim pun masih berfungsi dengan baik. Ketuban banyak dan jernih, aliran darah plasenta dan tali pusat baik, posisi adik sudah masuk panggul cukup dalam, tanpa lilitan tali pusat. Dokter bilang, akan menunggu 1 minggu lagi sampai tanggal 5 Januari, jika sampai tanggal 5 adik bayi belum lahir, maka akan dilakukan induksi persalinan dengan konsumsi misoprostol secara oral. Aku ingat betul ketika dr. Della mengatakan,

“Kita tunggu satu minggu ya… kalau belum keluar, kita induksi. Biasanya sih bayi kalau sudah dibilang akan diinduksi nanti dia lahir duluan hehehe”

Aamiin!

Mendengar kata induksi, aku sedikit cemas. Aku sebenarnya berusaha sebisa mungkin supaya minim intervensi medis. Banyak juga yang cerita bahwa induksi itu sakit. Namun berdasarkan informasi yang kugali di internet, penggunaan obat tersebut termasuk induksi yang sangat sangat sangat ringan, membuatku sedikit lega, merasa lebih siap dan tenang. Kalau memang itu jalannya, maka tidak ada pilihan lain selain menerima dengan ikhlas, kan? Tapi aku terus berdoa dan berharap, semoga saja Alya memilih untuk lahir sebelum itu.

Supaya aku bisa segera bertemu Alya, aku makin rajin lagi melakukan induksi alami, mulai dari makanan (nanas, duren, kurma, pepaya, kiwi, mangga), exercise (squat challenge, main gymball, pelvic rocking, daily walk), dan lainnya (massage, mandi air hangat, nonton film mellow2, aromatherapy, komunikasi dan affirmasi ke janin).

dates_625x350_81427802819
Sebuah penelitian mengatakan bahwa konsumsi kurma dapat mempercepat dan memperlancar proses persalinan. Image Source here

31 Desember 2017

Aku menjalani aktivitas seperti biasa, bangun shubuh kemudian ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Tiba-tiba,, pluk! Aku merasa ada yang keluar dari dalam, jatuh ke lantai kamar mandi. Aku lihat ternyata ada lendir cukup banyak, kenyal, dan kental, jelas berbeda dengan lendir keputihan atau cairan sekresi alami dari alat kewanitaan. Yay! Hello there, mucus plug, tanda awal tamu agung akan segera hadir, hehe. Tapi mucus plug ku kali ini berwarna bening, tidak ada bloody show sama sekali. Berarti kemungkinan masih jauh dari proses persalinan. Selepas maghrib aku kembali mendapati mucus plug berwarna bening kekuningan di pakaian dalam. Tapi tetap saja hari ini membahagiakan buatku karena Alya sudah memberikan tanda kedatangannya. Aku makin semangat melakukan induksi alami.

1 Januari 2018

Semalaman aku menunggu tanda selanjutnya, ternyata Alya belum juga memberikan tanda lanjutan. Pagi harinya aku kembali menemukan mucus plug yang mulai berwarna kecokelatan. Aku pun berjalan kaki pagi dan exercise seperti biasa. Aku jalan pagi 2.5 km di Taman Kota 1.

Siangnya aku ke SMS, niatnya ingin makan churros di Churreria, sayang ternyata gerainya sudah tutup. Yasudah, jadinya aku makan mango waffle di Nannys.

2 Januari 2018

Aku memutuskan untuk memulai periode maternal leave supaya bisa lebih relaks, nyaman, dan mempersiapkan segalanya untuk kelahiran Alya.

3 Januari 2018

Suamiku sudah mulai masuk kerja lagi, sehingga aku hanya melakukan exercise di rumah seperti biasa. Makan nanas, kiwi, kurma. Sop duren juga deh kalau ga salah. Iya, saking inginnya bertemu Alya.

5 Januari 2018

Sampai hari ini belum ada tanda-tanda lagi. Aku hanya merasakan sedikit sekali kontraksi palsu yang sangat rancu dengan mules ingin buang air besar. Namun pagi ini, aku merasa ada cairan yang keluar mengalir sampai paha, bahkan rembes ke sprei. Sebenarnya sejak kemarin, cairan seperti ini sudah muncul sedikit-sedikit, namun kupikir cairan sekresi biasa dan memang  tidak pernah terasa serembes ini. Ibu menyarankan untuk segera ke rumah sakit karena mengira itu ketuban, tapi aku tidak yakin. Aku mengecek pH cairan tersebut menggunakan kertas lakmus, ternyata pH nya masih asam, jadi kemungkinan besar bukan air ketuban.

Hari ini adalah jadwal aku kontrol sekaligus batas waktu yang dikatakan dr.Della untuk dilakukan induksi. Namun ternyata, hari ini dr. Della tidak praktik. Wah Alhamdulillah, masih ada waktu satu hari lagi untuk mengusahakan Alya terlahir alami.

6 Januari 2018. 11.00

Dr.Della bingung kenapa aku masih belum memberikan tanda-tanda signifikan akan melahirkan, padahal posisi bayi sudah turun sekali ke bawah panggul. Aku cengengesan aja.

“Duh wiii kok kamu masih cengengesan aja”
“Abis gimana dok, hehe”

Kemudian kujelaskan apa saja yang terjadi selama seminggu terakhir. Selanjutnya, pemeriksaan USG  menunjukkan bahwa air ketubanku mulai mengeruh walaupun jumlahnya masih banyak. Akhirnya dr. Della melakukan VT sekaligus merangsang bukaan, karena menurutnya, kalau dibiarkan ditunggu lagi namun kontraksi belum juga muncul, khawatir kondisi perangkat rahim yang lain juga menjadi kurang optimal.

VT kali ini sedikit lebih sakit daripada yang pernah kulakukan sebelumnya dengan dr.Silfiren di RSB Permata Sarana Husada. Eh banyak deng lebih sakitnya, karena sambil berusaha merangsang bukaan. Tapi yang aku suka, dr.Della selalu meminta izin dari aku dan adik bayi setiap kali melakukan hal yang membuat kami tidak nyaman.

Setelah itu, dokter menunjukkan tangannya bahwa sudah ada lendir darah. Sesaat kemudian, darah hangat mengalir deras dan banyak, sampai membasahi bagian belakang gamisku. Anehnya aku masih cengengesan, karena alih-alih kesakitan aku justru bahagia karena artinya aku lebih dekat pada persalinan.

Dokter juga membatalkan rencana induksi karena menurutnya, kontraksi akan segera datang. Aku pun diminta untuk tidak kembali ke rumah. Dokter mengarahkan untuk melakukan CTG di ruang VK dan selanjutnya dilakukan observasi selama 6 jam. Ohya, saat itu posisi mulut rahimku masih benar-benar posterior sempurna dan masih belum lunak. Alamaaak sepertinya masih jauh nih persalinannya, masa udah disuruh stay aja. Tapi aku menurut.

Saat aku ke ruang VK untuk melakukan CTG, ternyata sudah ada 3 kali kontraksi dalam 10 menit tapi aku ga kerasa (?). Bidan VK pun melakukan VT karena penasaran melihat banyaknya darah di bajuku, saat itu bukaan 1. Setauku bukaan 1 itu masih tahap awal fase laten, jadi aku sebenarnya sudah ingin pulang saja. Tapi aku tetap menurut untuk tetap di RS untuk observasi, lagipula Masun sudah terlanjur pesan kamar. Selama observasi, aku tetap jalan-jalan, squat, main gymball, makan kiwi kurma nanas etc. Sorenya aku juga jalan-jalan keliling RS, sampai ada drama dicariin bidan dan dokter karena mengira aku kabur dari RS LOL!

6 Januari 2018. 17.00

Bidan datang dan melakukan cek VT. Masih bukaan 1 namun sudah mulai lunak. Akhirnya aku minta pulang karena selama observasi aku tidak merasakan kontraksi yang signifikan (walaupun bidan bilang kontraksiku sudah bagus), lagipula siapa tau aku masih bisa nonton Insidious dulu malamnya heheh. Sayangnya aku diminta untuk menunggu sampai dilakukan VT lanjutan oleh bidan dari VK. Baiklah…

6 Januari 2018. 21.00

Aku turun ke ruang VK untuk cek dalam oleh bidan Nisa. Bidan Nisa juga memberikan rangsangan bukaan dan rasanya masyaAllah sampai membuatku tahan nafas dan memejamkan mata. Masih bukaan 1, aku tidak heran. Tapi sudah sangat lunak, okay it‘s a progress. Selanjutnya aku masih diminta menunggu di ruang VK sampai dokter melakukan visit. Setelah itu aku utarakan keinginan untuk pulang dan kontrol kembali 3 hari kemudian jika masih belum melahirkan, mengingat bukaan 1 masih fase laten. Tapi dokter bilang diobservasi dulu sampai besok pagi dan kalau pembukaan belum maju maka akan dilakukan induksi dengan 1/4 tablet misoprostol secara oral. Akhirnya walaupun sedikit kecewa ga jadi nonton Insidious malam itu haha, aku tetap menginap di RS, masih belum ada tanda-tanda persalinan. Aku merasa terlalu dini masuk ke RS, khawatir justru berakhir di meja operasi. Namun Masun berusaha menghibur dan menenangkan, pastilah dr.Della punya pertimbangan lain mengapa aku tidak diizinkan pulang.

7 Januari 2017. 03.00

Aku bangun dan ingin ke kamar kecil. Ketika mencoba tidur kembali, aku merasakan kontraksi yang durasinya cukup lama. Akhirnya aku coba cek pakai aplikasi kontraksi, ternyata sudah mengikuti pola 4-1-1. Kemudian aku membangunkan Masun sambil tersenyum bilang “Sayang, bangun yuk. Alya sebentar lagi lahir, kontraksiku udah 4-1-1”.

kon
Catatan gelombang cinta dari Alya

Selanjutnya, Masun selalu mendampingi setiap kali gelombang kontraksi itu datang. Selalu aplikasikan ilmu olah nafas yang selama ini dipelajari sambil melakukan beberapa jenis active movement yang mendukung persalinan. Aku rebozzo, pelvic rocking, bouncing, kneeling, shake the apple tree, standing sacral release, juga melakukan pose cat cow dan baddha konasana supaya adik bayi makin turun. Squatting juga masih sanggup dilakukan. Selama kontraksi, Masun ikut bernafas bersama, sambil melakukan afirmasi positif dan kemudian memberi saya apresiasi setiap berhasil melewati gelombang kontraksi dengan baik.

Good Job, sayang”
“Kamu kuat, kamu bisa”
Smile dulu”
“Minum dulu yuk, sayang”

7 Januari 2017. 05.30

Aku mandi pagi dengan air hangat, sekalian relaksasi. Nikmat sekali rasanya seperti release all the sensation hehe. Saat aku mandi, Ibu, Bapak, dan Bulik tiba di rumah sakit. Mulai dari sini, interval kontraksi semakin rapat, hanya berselang 2 – 2.5 menit dengan durasi 1-2 menit. Tapi rasanya masih manageable dan masih bisa sadar dengan nafas. Aku pikir, aku sudah masuk fase aktif.

Setiap kontraksi yang datang, membawaku semakin dekat dengan bayiku.
Setiap kontraksi yang datang, bayiku sedang berjuang mencari jalan lahirnya.
Kita berjuang sama-sama ya sayaaang!

7 Januari 2017. 06.41

Ternyata masih bukaan 2, namun sudah mulai tipis. Sempat tidak percaya masih bukaan 2 karena interval kontraksi sudah cukup rapat. Tapi alhamdulillah karena bukaan maju, aku tidak jadi diinduksi.

7 Januari 2017. 09.10

Bidan kembali melakukan VT. Sudah hampir bukaan 4 katanya. Ditanya apakah masih kuat atau sudah mau turun ke VK. Aku menolak masuk ke ruang VK karena merasa masih kuat dan bisa manage gelombang cinta yang datang.

7 Januari 2017. 10.26

Sejak melakukan VT pukul 09.10, aku merasa sensasi rasa yang diterima semakin kuat dan semakin rapat. Mencoba berbagai posisi pun sulit menemukan yang nyaman. Ibu, bulik, dan bapak bergantian memijat lowerback, sementara Masun terus berada di sampingku, menggenggam tanganku, sambil memberikan afirmasi positif dan melakukan gerakan release agar aku tidak tegang. Akhirnya, aku merasa tidak kuat dan sangat lelah, aku pun minta turun ke ruang VK. Sesampainya di VK, kembali dilakukan VT, ternyata sudah hampir bukaan 5. Alhamdulillah akhirnya memasuki fase aktif, bismillah aku semangat lagi. Sebentar lagi. Sebentar lagi aku akan memeluk Alya, pikirku. Masun pun segera mendiffuse aromaterapi yang sudah kami siapkan sebelumnya. Aku tetap berganti-ganti posisi namun lebih terbatas. Masun juga terus memijat panggul supaya aku merasa lebih nyaman.

98c7971cedaf4c77ac34510b21fe26f5
Aromaterapi lavender dapat digunakan untuk membantu ibu relaks selama proses persalinan. Image Source here.

Kali ini, sensasi rasa yang datang berbeda dengan sebelumnya. Kalau sebelumnya masih terpusat di perut dan rahim, kali ini rasanya berpusat pada panggul dan tulang ekor. Aku merasakan dorongan yang kuat seolah ada yang ingin mendesak keluar. Rasanya ingin buang air ke kamar mandi, meskipun tidak ada yang keluar. Pastilah kepala adik bayi sudah makin ke bawah hingga menekan tulang ekor dan uretra, pikirku.

7 Januari 2017. 11.55

Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk Masun, tiba-tiba aku merasakan dorongan yang sangat kuat dan kemudian BYAR! Ketubanku pecah. Banyak dan bening. Ahhh.. Alhamdulillah rasanya legaaa sekali. Aku tahu aku tidak boleh banyak bergerak lagi setelah itu sehingga aku segera berbaring ke kiri. Ternyata aku sudah masuk bukaan 7.

Banyak yang bilang dari bukaan 7 sampai lengkap, rasanya ingin sekali mengejan. Aku tidak. Aku justru khawatir aku telah mengejan dengan tidak sengaja karena dorongan yang sangat kuat dari dalam tubuhku. Aku tanya bidan apakah aku mengejan tanpa aku sadari, katanya tidak. Aku disuruh melakuan nafas pendek tiup-tiup atau seperti orang kepedasan untuk mencegah aku mengejan. Aku pernah belajar tentang ini sebelumnya, namun ternyata aku lebih nyaman melakukan olah nafas seperti sebelumnya.

Bidan meminta aku untuk mengganti baju karena baju sebelumnya basah akibat air ketuban. Aku selalu bilang “nanti dulu”, karena aku ingin mengganti baju saat dorongan tidak begitu kuat. Tidak lama kemudian bidan meminta aku segera ganti baju sambil dibantu. Menurut Masun, bidan terlihat mulai khawatir dan ingin menyegerakan, mungkin karena waktunya hampir tiba. Jarum untuk memasukkan obat-obatan persalinan pun tidak sengaja terlepas saat aku berganti baju. Bidan segera mengganti dengan yang baru. Aku merasa aku telah tiba di titik surrender. Menerima apapun yang terjadi dan dilakukan kepadaku dengan pasrah, karena aku yakin itu mendekatkan pertemuanku dengan Alya.

7 Januari 2017. 12.25

Bukaan 8. Memasuki fase transisi.  Tidak lama kemudian dokter datang dan langsung memakai apron berbahan plastik. Wah, waktunya sudah tiba, aku masih tidak percaya aku sampai kepada titik ini. Aku bahkan bertanya “sudah mau lahiran ya, dok?”, membuat Masun melengos dalam hati (katanya) dan membatin “yaAllah ini bocah pake nanya”

Dr.Della hanya menjawab “iya wii Alhamdulillah ya ditunggu-tunggu”

Dr.Della kemudian menjelaskan beberapa prosedur, mulai dari kapan aku mengejan sampai prosedur episiotomi. Aku memang tidak berharap dapat melahirkan dengan perenium utuh, mengingat aku jarang sekali melatih otot perenium. Latihan kegel pun sebatas kalau ingat saja, hehe.

Posisi melahirkan dilakukan dengan cara litotomi, dengan aku mengangkat paha dengan tanganku sendiri dan merentangkannya. Aku cukup suka cara ini, karena kendalinya ada pada diriku sendiri. Ya.. walaupun aku sebenarnya berharap bisa melahirkan dengan posisi jongkok sih hehe.

“Kalau sudah merasa sakit, ngeden ya wi”
“Sakit sperti apa maksudnya dok?”
“Ya mules”
“Oh kontraksinya ya.. oke!”

Tidak lama kemudian..

“Dok ini sakit bukan ya?”
“Kamu ngerasa sakit?”
“Heem kayanya.. eh iya sakit nih dok”
“Oh yaudah yuk ngeden”

Aku berusaha mengingat apapun yang telah kupelajari mengenai teknik mengejan. Mata terbuka, gigi terpaut, mulut senyum lebar meringis, tanpa suara hehe.  Bismillah, laa hawla walaa quwwata illa billah!

Aku pun mengejan. Beberapa lama kemudian gelombang kontraksi pertama hilang, dokter bilang mengejanku bagus. Selama mengejan suasana ruangan begitu hening, hanya terdengar suara dokter yang memandu. Setelah selesai mengejan, Masun menyuapiku sebutir kurma dan memberiku minum air zam zam, sambil terus menyemangati.

Gelombang kedua datang. Aku kembali mengejan. Kemudian berhenti ketika nafasku habis. Sudah mulai crowning, katanya. Ohya, saat itu dilakukan prosedur episiotomi, aku bisa dengan jelas mendengar suara krek – krek dari gunting dokter.

Ohya, di akhir saat sedang melakukan IMD sambil jahit menjahit, bu bidan dan dokter ngobrol santai..

“Yaampun dok tadi ngeri banget suara guntingnya kedengeran gitu”
“Iya ya, abisnya Dwi diem banget sih makanya kedengeran. Yang lain kan biasanya berisik. Duh wii kalau semua yang lahiran kayak kamu, 10 sehari saya sanggup deh!”

Okay, back to the track

Gelombang ketiga datang, aku menarik nafas lebih panjang dan mengejan dengan lebih kuat. Kan katanya udah crowning, hehe. Sambil mengejan, kata dokter jangan dilepaskan, sehingga ketika nafasku habis, aku langsung sambung dengan nafas berikutnya. Terus menerus hingga aku merasakan dengan sadar kepala Alya berhasil melewati jalan lahir, disusul oleh bahu, badan, hingga kaki. Tangis pertama Alya pecah di ruangan tepat pukul 12.41, bersama kelegaan dan rasa hangat di hati dan pelupuk mataku. Terima kasih, Ya Allah… semua terjadi begitu cepat, begitu lancar.

Dalam tangisannya yang belum berhenti, kuucapkan salam pertamaku untuk Alya, mengiringi kehadirannya di dunia. Aku langsung mendekap Alya begitu ia diletakkan di dadaku untuk proses IMD. Seketika tangisannya berhenti. Masun segera mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga Alya. Begitu haru, begitu takzim, aku merasa Allah begitu dekat…

Rasanya indah sekali..

Selamat datang ke dunia, sayangku.. belahan jantungku ❤

aa-Cover-r7s8taq5hp0fm1upu432k0g040-20170624103539.Medi

Featured Image source

Tetap Bugar selama Kehamilan dengan Prenatal Yoga

Siapa yang kenal baik dengan saya, pasti tau kalau saya itu jarang sekali berolah raga. Saat sekolah dulu, paling frustasi kalau ada pengambilan nilai lari selama pelajaran olahraga. Prinsip saya setiap olahraga adalah yang penting happy dan badan bergerak, lebih banyak gaya dan ketawa dibanding olahraganya hehe. Saat kuliah pun malas sekali olah raga, hehe jangan ditiru ya. Jogging 2-3 kali seminggu adalah versi paling rajin, itu pun hanya sebulan sebelum rencana naik gunung. Hehehe.

Penurunan endurance ini sepertinya mulai terlihat signifikan setelah saya lulus SMP. Ketika menduduki bangku SMP, kontur tanah sekolah berasrama saya berupa perbukitan di desa. Setiap hari rasanya seperti olah raga, apalagi kalau harus lari ke masjid mengejar kalimat Laa ilaaha illallah saat adzan dikumandangkan. Saat itu saya justru sangat hobby ikut kegiatan olah fisik seperti outbond atau bela diri, bahkan sempat mengikuti kejuaraan bela diri (meski tidak juara) dan berhasil memegang sabuk biru olahraga bela diri Tapak Suci.

Heran? Sama. Rasanya ingin sekali sebugar dulu.

Akhirnya saat kehamilan ini datang, saya mencari cara supaya saya bisa kembali sehat dan fit. I believe that giving birth is a courageous act of a woman, and I want to be strong. Tapi saya juga nggak mau yang hardcore dan capek-capek haha. Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan prenatal yoga karena berdasarkan hasil baca sana-sini, banyak sekali manfaat dari prenatal yoga. Dan sepertinya saya cocok dengan tipe olahraga seperti ini. Gerakannya gentle dan smooth, tapi kalau dilakukan dengan benar, bisa jauh lebih efektif daripada olahraga lain. Dan, aslinya juga karena saya tidak bisa berenang sih, hehehe.

20171209_124123
With my supportive husband

Agak sulit bagi saya untuk mencari kelas prenatal yoga di daerah BSD dan Pamulang, karena biasanya hanya menyediakan kelas umum. Kalau ingin khusus prenatal berarti harus ambil kelas private, yang mana lebih mahal hehe. Namun setelah googling sana sini, akhirnya saya menemukan Nujuh Bulan Studio, studio yoga dan childbirth education center yang terletak di bilangan Bintaro (Baca juga = Pengalaman Mengikuti Childbirth Education Class di Nujuh Bulan Studio). Memang agak jauh sih dari rumah, tapi baru melihat profilnya saja saya merasa cocok bahwa inilah yang saya butuhkan.

Nujubulan
Studio Yoga. Sumber = Nujuh Bulan Studio

Saya kemudian langsung menghubungi admin untuk mendapatkan info mengenai kelas dan biayanya. Sebelum mengikuti kelas prenatal yoga, kita wajib untuk mengikuti introductory workshop for prenatal yoga sebagai pengenalan dasar mengenai gerakan inti prenatal yoga, teknik pernapasan, relaksasi, serta komunikasi dengan janin. Biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti kelas intro ini adalah Rp 250.000, sudah termasuk goodie bag berisi produk-produk herbal, voucher mothercare, dan voucher-voucher lain. Lumayan, heheheh.

Saya mengikuti kelas intro saat usia kehamilan saya mencapai 16 minggu. Saat itu usia kehamilan saya paling muda dibanding teman-teman yang lain. Ada yang sudah 25 minggu, bahkan 30 minggu. It’s never too late to start. Pengajar saya saat kelas intro adalah Ka Tia Pratignyo, CEO dari Nujuh Bulan Studio. Kelas terdiri dari 45 menit teori mengenai dasar-dasar kehamilan dan pentingnya olah fisik selama proses kehamilan, dan 60 menit praktik mengenai gerakan-gerakan dasar prenatal yoga dan teknik pernapasan. Saya disadarkan bahwa olah fisik selama kehamilan itu sangat bermanfaat untuk mengurangi keluhan-keluhan selama kehamilan seperti backpain, lower backpain, symphisis pubis, pegal-pegal di kaki, dan lain lain. Saya juga diingatkan untuk lebih aware mengenai postur tubuh sehari – hari. Bagaimana posisi duduk, posisi tidur, dan posisi berdiri yang benar, serta bagaimana cara bangun, cara duduk, dan cara melakukan aktivitas mendasar lain dalam kehidupan sehari-hari. Perlu kita ingat sama-sama, bahwa kehamilan itu bukan penyakit. Keluhan-keluhan yang sering dialami selama kehamilan itu bukanlah disebabkan oleh kehamilan, melainkan karena kurang sadarnya kita dengan olah fisik dan postur tubuh sehari-hari sejak sebelum kehamilan. Akibatnya, ketika kehamilan datang, ketika kita diberikan beban tubuh lebih, keluhan itu akan mudah sekali terasa.

Selanjutnya, saya mulai membiasakan diri untuk hadir prenatal yoga di Nujuh Bulan Studio. Awalnya 2 pekan sekali, kemudian mulai rutin tiap pekan seiring bertambahnya usia kehamilan. Walaupun kadang bolong – bolong juga sih karena ada agenda lain hehehe. Istiqomah itu memang sulit, but we need to practice because it is necessary. Di awal, saya mengambil paket berisi 10 sesi prenatal yoga, karena akan menjadi lebih hemat dibandingkan biaya per visit.

Selama mengikuti prenatal yoga di Nujuh Bulan Studio, saya sempat diajar oleg 3 instruktur yang berbeda yakni Mba Shinta, Mba Gina, dan Mba Azani. Di antara ketiga pengajar ini, saya paling suka mengikuti kelas Mba Azani karena sekuens gerakan yang digunakan sangat challenging bagi saya. Walaupun smooth dan gentle, tetap loh di awal-awal, kaki (terutama paha dan betis bagian dalam) akan terasa pegal dan tubuh pun bersimbah keringat. Haha. Kalau kata beliau “Kita ngga perlu banyak gerak, tetapi pastikan gerakan yang kita lakukan itu benar. Olah nafasnya benar. Sehingga memberikan impact terhadap tubuh”

Yea, super like this.

pose catcow2
Cat cow pose. Sumber = doyouyoga.com
pose warrior
Warrior (kalau ga salah). Sumber = genderreveal.com

Pada dasarnya, gerakan – gerakan yang dilakukan adalah variasi dari butterfly pose, cat/table pose, serta gerakan gerakan lain yang dilakukan pada posisi squatting maupun standing, seperti mid squat, deep squat, warrior, goddess pose, extended side angle pose, extended triangle pose, dan pose-pose lainnya yang tidak saya ingat namanya satu per satu. Yang penting gerak deh hehe. Kebanyakan fungsi gerakan yang dilakukan adalah membuka dan memutar panggul supaya posisi janin optimal. Beberapa gerakan untuk melatih otot perut bagian bawah dan core activation unit juga dilakukan supaya target muscle yang berperan dalam proses persalinan dapat dilatih. Sekuens gerakan yang dilakukan setiap minggunya tidak selalu sama, instruktur biasanya akan menyesuaikan dengan usia kehamilan dari peserta prenatal yoga yang hadir. Dan yang paling menyenangkan adalah, di akhir sesi kita selalu melakukan latihan olah nafas, relaksasi dengan afirmasi positif, serta komunikasi dengan janin. Jadi selain olah fisik, sesi prenatal yoga disini juga bisa membantu kita dalam stress release dan menyehatkan jiwa. Hehehe.

Alhamdulillah, I find joy during prenatal yoga session. Saya pribadi merasakan manfaat dari jenis olah raga ini. Menginjak usia 38 minggu, jarang sekali merasakan backpain, dan tidak mengalami kaki bengkak. Hanya pegal-pegal ringan saja yang bisa dibantu dengan sesi pijat singkat dari suami hehe.

Tidak terasa sudah 38 minggu menjalani kehamilan, membawa cinta yang terus tumbuh bersama. Tidak terasa juga, sebentar lagi akan berpisah dengan momen kehamilan. Terima kasih telah menemani ibu kemanapun dan kapanpun ya, sayang. Terima kasih telah membuat ibu lebih sadar dan banyak belajar selama menjalani kehamilan ini. Sampai bertemu dalam dekapan yang nyata, sayang. Insyaallah tidak lama lagi 

Mohon doanya ya, agar persalinan nanti dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah SWT, dan semoga tidak lupa mengaplikasikan gerakan-gerakan yoga dan teknik-teknik olah nafas saat persalinan kelak. Aamiin.

Dan.. kepada ibu-ibu hamil dimanapun kalian berada, kalian semua hebat.
May you experience a blissful pregnancy.

Featured image source = hallosehat.com

Dwi Mustika Handayani

Pengalaman Mengikuti Childbirth Education Class di Nujuh Bulan Studio

Nujuh Bulan Studio merupakan studio yoga dan childbirth education center yang terletak di bilangan Bintaro. Studio ini memiliki concern untuk memberikan support kepada para orang tua, khususnya wanita baik sebelum maupun sedang hamil, dan pasca melahirkan. Program yoga yang ditawarkan oleh studio ini juga beragam, seperti prenatal yoga, hatha yoga, couples yoga, fertility yoga, postnatal yoga, serta baby and mom yoga. Di tempat ini juga saya rutin melakukan latihan prenatal yoga sebagai bentuk olahraga saya selama kehamilan. Sementara untuk program childbirth education center, Nujuh Bulan menyediakan program childbirth education course, doula service, hypnobirthing, women circle, serta breastfeeding and newborn care.

Selengkapnya dapat dilihat di website Nujuh Bulan Studio.

Saya pribadi merasa nyaman sekali mengikuti prenatal yoga disini. Selain karena tempatnya yang nyaman dan homey, banyak ilmu-ilmu yang saya dapatkan di setiap sesinya yang membuat saya semakin sadar menjalani kehamilan ini. Cerita lebih lengkapnya mengenai prenatal yoga di studio ini akan saya tulis di tulisan selanjutnya ya, insyaallah.

NBS
Suasana lantai 1 Nujuh Bulan Studio. Source = Nujuh Bulan Studio

Awal November kemarin, saya dan suami berkesempatan untuk belajar lebih banyak mengenai persiapan holistik kelahiran buah hati melalui kelas Childbirth Education. Program ini ditujukan untuk couple suami istri. Iya, ayahnya ikut juga, karena proses melahirkan tidak hanya milik dan tanggung jawab para ibu saja, tetapi juga para ayah. Beruntung sekali Masun bersedia dan bahkan bersemangat mengikuti kelas ini, tidak perlu saya paksa-paksa dulu hehehe.

Kelas ini berlangsung selama 2 hari. Hari pertama dari pukul 09.00-17.00 dan hari kedua dari pukul 13.00 – 17.00. Biaya investasi yang dikeluarkan sudah termasuk modul, snack, dan makan siang untuk hari pertama.

Pada hari pertama kami diajar oleh Mba Tia Pratignyo, founder dari Nujuh Bulan Studio dan Mba Irma, cofounder sekaligus doula Nujuh Bulan Studio. Pada hari pertama kami belajar mengenai persiapan holistik menuju persalinan yakni mind, body, and soul serta pengenalan mengenai kunci persalinan nyaman.

Sebelum makan siang, kegiatan lebih didominasi dengan teori. Jadi kami duduk di yoga mat mengelilingi ruangan, disediakan juga bantal-bantal untuk bersandar. Kami dibebaskan ingin duduk atau bergerak seperti apa, senyamannya hehehe. Suasananya nyaman, dengan lighting yang redup dan lembut. So calm and intimate hehe.

Pada sesi mind, kami diingatkan kembali mengenai makna proses melahirkan, betapa melahirkan merupakan sebuah momen penting bagi ibu dan bayi, serta bagaimana perlunya melahirkan secara gentle dan sadar. Kami kembali diingatkan bahwa melahirkan adalah proses yang  alami dan semua perempuan diciptakan dengan memiliki kekuatan untuk itu. Kami juga diajarkan dasar-dasar hypnobirthing dan bagaimana melakukan afirmasi-afirmasi positif selama proses kehamilan dan persalinan. Pada sesi body, kami belajar pengenalan mengenai nutrisi kehamilan dan anatomi tubuh yang berperan selama proses kehamilan dan persalinan, serta posisi optimal bayi dalam kandungan. Dan pada sesi soul, kami diingatkan kembali tentang peran dan kekuatan doa, meditasi cinta kasih, serta komunikasi dengan janin selama proses kehamilan dan persalinan.

Setelah makan siang, baru kami lebih banyak praktik. Kami dikenalkan mengenai 3 kunci utama persalinan nyaman yakni breathing, movement, dan relaxation. Kami diajarkan teknik-teknik olah nafas mulai dari nafas tiup, nafas desis, dan nafas bersuara. Teknik ini sebenarnya dipelajari saat mengikuti introductory class untuk prenatal yoga, bedanya sekarang para ayah juga ikutan sehingga kelak harapannya bisa membantu ibu untuk fokus kepada nafas saat proses persalinan hehehe. Kemudian, kami juga melakukan simulasi memberikan afirmasi positif dan mengenal kebutuhan relaksasi masing-masing ibu. Serta bagaimana peran suami dalam membuat ibu relaks dan nyaman selama proses persalinan. Hehehe curang ya, jadi banyak PR untuk ayahnya hehe.

Kami juga diingatkan untuk melakukan olah fisik menjelang persalinan. Bayangkan kita ingin mendaki gunung atau lari marathon, tidak mungkin kita bisa langsung. Bisa sih, tapi ga mau kan jadi seperti Barney yang kakinya lemes sampai ga bisa berdiri pasca ikut New York marathon tanpa pemanasan, hehehe. Nah ini juga PR sekali bagi saya pribadi, karena sulit sekali menjaga komitmen, apalagi saya memang malas olahraga sejak sebelum hamil. Akhirnya sekarang sudah mulai rutin menjaga jalan kaki 30 menit per hari dan yoga setiap pekan. Sisanya masih perlu diimprove. Doakan saya supaya konsisten yaaa, demi kehamilan yang sehat dan kuat hehe.

Hari ini kami juga diajari tentang posisi – posisi untuk optimalisasi posisi janin. Ini bagian favorit saya sih hehe, mulai dari forward leaning inversion, rebozo shifting, shake the apple tree, standing release, sampai side lying release. Dan ini semuanya melibatkan para suami hehe jadi suami olahraga juga (apalagi pas rebozo! Hehe). I definitely enjoy rebozo and side lying release =p

Rebozo
Rebozo. Source = Spinning Babies

Dan sebagai penutup pelajaran hari ini, kami berlatih olah nafas, melakukan teknik ideomotor, pijat acupressure untuk menstimulasi datangnya kontraksi, pijat endorphin untuk membuat ibu lebih rileks, serta melakukan deep relaxation dan komunikasi dengan janin. Sesi simulasi komunikasi dengan janin ini bagi saya pribadi terasa sangat emosional, saya dan suami sampai tidak sadar meneteskan air mata.

Ah pengalaman hari pertama saja sudah sangat berkesan dan sarat ilmu baru, ya?

Pada hari kedua, kami diajar oleh Mba Irma dan Mba Sinta, yang juga merupakan salah satu doula di Nujuh Bulan Studio. Mba Tia menyusul ketika sudah mulai melakukan banyak aktivitas fisik karena sepertinya sebelumnya mengajar di kelas newborn care. Hari ini materinya lebih hardcore lagi, lebih dekat dengan proses melahirkan itu sendiri.

Pertama, kami belajar mengenai kerja dan peran masing-masing hormon persalinan, dan apa cara yang dapat dilakukan suami untuk menjaga lingkungan persalinan yang kondusif bagi ibu. Kami juga diberi pengenalan tentang bagian-bagian otak dan perannya dalam proses persalinan, bagian-bagian mana saja yang aktif saat persalinan berlangsung.

oxy
Oksitosin, dikenal sebagai Hormon Cinta. Source = The Pulse by Pregistry

Materi selanjutnya lebih ke penjelasan mengenai persalinan itu sendiri mulai dari tanda-tanda awal persalinan, kapan harus ke rumah sakit, serta penjelasan mengenai kontraksi yang akan dialami. Kami juga melakukan simulasi memahami gelombang rahim dengan berpasangan dengan suami. Mempelajari bagaimana karakter pasangan kita saat kita dihadapkan pada situasi yang tidak nyaman. Fight or flight? Aku mah pastinya flight…hehehe. Saat simulasi ini, Masun terkejut menyadari bahwa teknik olah nafas benar-benar bisa menghilangkan rasa sakit, kemudian ekspresi wajahnya kegirangan, bikin saya jadi ingin ketawa dan sulit kembali fokus pada nafas hehe.

Ketiga, kami mempelajari tahapan-tahapan persalinan mulai dari kala 1 yang terdiri dari fase laten, fase aktif, dan fase transisi, kala 2 yang merupakan fase kelahiran sang bayi, serta kala 3 yang merupakan fase kelahiran plasenta. Bagaimana karakter masing-masing kala tersebut dan hal – hal apa saja yang perlu diperhatikan. Masing-masing tahap dibahas dengan mendetail dan jelas, disertai alat peraga.

Selanjutnya, kami diajarkan mengenai gerakan-gerakan aktif yang dapat dilakukan selama persalinan berlangsung, dengan tujuan mengantarkan bayi ke posisi optimal menuju kelahirannya. Selain gerakan optimalisasi posisi bayi yang sudah diajarkan di hari sebelumnya, kami juga belajar dan menyimulasikan variasi gerakan lain mulai dari gerakan berdiri, duduk, berlutut, jongkok, hingga berbaring. Bagian favorit saya tentu saat melakukan dynamic dan slow dancing, hehe. Selain itu, kami juga belajar beberapa permasalahan yang mungkin menyebabkan persalinan lambat dan stuck, serta gerakan-gerakan apa saja yang dapat membantu melancarkan proses persalinan tersebut. Pengenalan mengenai posisi-posisi melahirkan juga dikenalkan disini. Kemudian, masing-masing dari kami melakukan simulasi melahirkan, dimana saya kebagian dibantu oleh doula Irma. Ohya, mohon doanya ya, supaya saya bisa segera menemukan healthcare provider yang dapat membantu saya melakukan persalinan dengan posisi yang saya harapkan. Aamiin.

Di akhir, tidak lupa para suami diajarkan dan diingatkan kembali untuk menjadi pendamping persalinan yang baik. Ada post test lisan juga ternyata dari para pengajar untuk para ayah. Hahaha untung Masun bisa jawab ya =)

image1
Group Photo CBE Class 4-5 November 2017

Overall, saya bahagia sekali mengikuti kelas ini. Empowering and enlightening, kelas ini benar-benar memberikan materi persiapan persalinan yang holistik dari berbagai aspek. Tidak hanya teori, kelas ini mengajarkan kami hal-hal yang bisa langsung kami praktikan di rumah, dan kelak saat persalinan berlangsung.

Bismillah. Hari ini tepat 36 weeks usia kandungan saya. Mohon doanya supaya persalinan kelak dilancarkan dan dimudahkan. Supaya dapat merasakan persalinan yang nyaman, alami, dan bahagia.

Cheers! May every women experiences a blissful pregnancy.

Dwi Mustika Handayani.

Featured image source = Women’s Health Center

Pengalaman Tes IELTS di IALF Jakarta

Hai all, I’m back!

Menyambung tulisan sebelumnya mengenai Pengalaman IELTS Preparation di IALF Jakarta , kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman tes IELTS, masih di tempat yang sama. Kenapa saya memilih tes di IALF? Karena selama belajar disana, saya merasa nyaman dengan fasilitasnya, sehingga besar harapan saya penyelenggeraan tes disini juga nyaman dan kondusif.

Pertama-tama yang perlu dilakukan untuk melakukan tes IELTS adalah mendaftarkan diri. Ada dua cara untuk mendaftar tes IELTS di IALF yakni :

  1. Walk in registration
    Untuk walk in registration, kita hanya perlu datang ke kantor IALF pada hari kerja (Senin-Jumat pukul 08.00 – 16.00), mengisi form aplikasi dan membayar biaya tes di kasir. Pembayaran dapat dilakukan dengan uang cash maupun dengan kartu debit/kredit.
  2. Online registration
    Saya memilih mendaftar menggunakan metode ini karena lebih praktis dan tidak perlu meninggalkan kantor. Saya hanya perlu mengunjungi website IALF di bagian IELTS Registration and Test Dates. Selanjutnya tinggal klik icon IELTS Online Payment and Registration yang ada di halaman ini. Setelah memilih lokasi dan tanggal tes yang tersedia, kita akan diantarkan ke web IELTS Essential dari IDP untuk melengkapi aplikasi pendaftaran.
    Jika teman-teman berminat untuk memilih lokasi lain untuk melakukan tes, bisa juga langsung mengunjungi web IDP melalui tautan berikut https://my.ieltsessentials.com/ dan klik Begin IELTS Registration.Setelah mengisi aplikasi online, sistem akan mengirimkan Payment Instruction ke email kita dan langkah selanjutnya adalah melakukan pembayaran. Saat itu saya dikenakan biaya Rp2.850.000. Pembayaran dilakukan menggunakan transfer ATM. Setelah membayar, kita juga akan mendapatkan email konfirmasi pembayaran beserta detail pelaksanaan tes.

Saat tanggal tes tiba, registrasi dilakukan pukul 07.30, kalau telat tidak boleh ikut tes hehe. Selanjutnya kita perlu melakukan 4 tahapan pendaftaran sebelum memasuki ruangan auditorium tempat tes IELTS dilaksanakan yaitu :

  1. Pendaftaran peserta
    Antrian pertama adalah mengantri untuk mengetahui nomor peserta tes. Disini kita harus menunjukkan kartu identitas ASLI yang digunakan pada saat mendaftar. Disini juga ada petugas yang akan mencocokkan wajah kita dengan foto yang tertera di kartu identitas. Benar-benar diperiksa, lho. Kira-kira 3 kali petugas mencocokan wajah saya dengan foto sebelum saya diizinkan untuk mengambil nomor peserta. Bahkan suami saya juga ditandai KTPnya dan diminta untuk menyertakan identitas tambahan (SIM, karena wajah suami saya dianggap berbeda dengan foto di KTP). Hehe secara suami dulu bikin KTP saat SMA, sekarang sudah bekerja dan sudah menggunakan kacamata.
  2. Menitipkan barang bawaan
    Setelah memperoleh nomor peserta, kita diminta untuk menaruh barang bawaan kita di suatu ruangan khusus. Hanya diperbolehkan membawa kartu identitas, nomor peserta, kartu penukaran tas, serta botol minum TRANSPARAN. Tidak perlu membawa alat tulis karena akan disediakan oleh IALF. Handphone juga harus dipastikan dalam keadaan mati (bukan hanya silent).
    Karena saya sedang hamil muda (11 weeks) sekaligus puasa, saya meminta izin untuk membawa minyak telon/kayu putih untuk jaga-jaga apabila saya merasa pusing atau tidak enak badan selama tes. Alhamdulillah diizinkan oleh petugas.
  3. Pas Foto dan Rekam Sidik Jari
    Antrian selanjutnya adalah melakukan pas foto dan rekam sidik jari. Pas Foto ini nantinya yang akan dimasukkan ke dalam sertifikat hasil tes. Ada 2 pos untuk melakukan pas foto dan rekam sidik jari, ambil yang paling pendek saja antriannya hehehe.
  4. Tanda Tangan
    Terakhir, tanda tangan di form kedatangan peserta. Setelah itu kita akan diminta menunggu di sepanjang lorong IALF sampai waktu tes tiba. Tenang, ada tempat duduknya kok 🙂

Mendekati waktu tes tiba, panitia akan mengingatkan untuk ke toilet terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan tes. Selanjutnya, panitia akan memanggil nama kita satu per satu untuk masuk ke auditorium. Auditoriumnya sejuk dan sangat luas, menggunakan kursi-kursi lipat seperti pada bangku perkuliahan dimana di masing-masing meja sudah terdapat nomor peserta. Kita hanya perlu duduk di meja dengan nomor yang sesuai dengan nomor peserta.

Selama rangkaian tes, kita akan dipandu oleh invigilator IELTS dari IALF. Sangat banyak invigilatornya, mungkin ada sekitar belasan dalam satu ruangan tersebut. Audionya juga benar-benar clear dan jelas, sehingga hasil tes insyaallah tidak akan terganggu dengan kendala teknis seperti audio yang kurang jelas hehe. Rangkaian tes dilakukan sesuai dengan ketentuan tes IELTS, dimulai dari Listening, Reading, sampai Writing. Ohya kita diberikan 2 buah pensil yang sudah diraut dan 1 buah penghapus. Untuk pensil apabila di pertengahan jalan pensilnya sudah tumpul, kita juga bisa menukar dengan pensil yang lebih tajam dengan mengomunikasikannya pada invigilator.

Isi tes IELTS tertulis saya saat itu kurang lebih seperti ini :

  • Listening
    Section 1. A phone conversation about booking a restaurant for a surprise party.
    Section 2. A radio program about different cycling tracks.
    Section 3. A conversation between a tutor and a student who wants to do a field study.
    Section 4. About human sense of smell.
  • Reading
    Passage 1. About the effect of exercise on human brain.
    Passage 2. About the development of television in the UK.
    Passage 3. About the controversy of tourism.
  • Writing
    Task 1. We were given a graph showing the percentage of female members in parliament in five European countries.
    Task 2. Some people think that drivers should pay for building and maintaining roads, while others think that the government should pay the costs of infrastructure. What is your opinion? Give reasons for your answer and include any relevant examples from your knowledge or experience.

Paling gemas sama writing, terutama Task 2. Karena mungkin saya kurang cocok dan kurang memiliki pengetahuan atau pengalaman mengenai bidang tersebut sehingga essay yang saya tulis kurang deep dari segi konten :(, walaupun dapat menyelesaikan tugasnya sampai selesai. Yasudah, yang lalu biarlah berlalu yang penting sudah melakukan yang terrrrrbaik hehe. Di antara keempat komponen tes, memang nilai saya paling rendah di writing hiks, tapi alhamdulillah masih memenuhi requirement yang dibutuhkan oleh perguruan tinggi.

Rangkaian tes tertulis IELTS selesai sekitar pukul 12.00, dan selanjutnya kami diberikan arahan mengenai jadwal pelaksanaan tes speaking (masih di hari yang sama). Saya mendapat giliran jam 14.30 kalau tidak salah dan harus kembali ke lokasi tes 30 menit sebelum jadwal tes. Ohya, saya akhirnya membatalkan puasa saya karena setelah proses mengantri, saya merasa sangat pusing dan pandangan berbayang, sehingga selama tes saya minum air putih (tetap lapar haha). Sembari menunggu waktu pelaksanaan tes speaking, setelah sholat saya dan suami jalan ke Setiabudi One untuk makan siang (suami ngeliatin aja tapi).

Saya menunggu di auditorium sampai nama saya dipanggil untuk tes speaking. Setelah nama saya dipanggil, saya diminta menunggu di kursi yang ada di luar ruangan tes. Saya mendapatkan ruangan nomor 5 sambil menunggu peserta sebelumnya selesai. Examiner saya adalah perempuan bernama Caroline. Beliau sangat santai, ramah, dan murah senyum, tapi berbicaranya sangat cepat. Saking murah senyumnya, beliau seringkali merespon jawaban saya dengan tertawa santai. Sebenarnya hal ini mungkin bagus, untuk mencairkan suasanya, membuat saya enjoy serta rileks,  namun saya jadi sering merasa lepas grip dan kontrol terhadap struktur dan grammar karena berusaha memberikan respon yang serupa. Jadi inget saran untuk melakukan mirroring your examiner, termasuk dalam intonasi dan pace dalam berbicara.

Ohya sekedar share lagi, berikut ini kira-kira isi dari tes speaking saya kemarin:

Part 1. Interview

  • What is your full name?
  • Can I see your ID?
  • Where are you from?
  • Do you work or study?
  • What do you do?
  • What is the most challenging thing at your work?
  • Why is that?
  • Let’s talk about e-mails.
  • Are e-mails popular in your country? Why?
  • How often do you write and send e-mails?
  • Do you think e-mail will be still popular in the future? Why?
  • Let’s talk about neighbors.
  • Do you know your neighbors?
  • Do you prefer younger or older people as neighbors? Why?

Part 2. Cue Card

Talk about your favorite piece of clothing. Please say
  • What is it?
  • Why do you like it?
  • How often do you wear it?

Part 3. Discussion

  • Do you think people enjoy buying clothes?
  • Why do some people go together with other people when shopping for clothes?
  • Is online shopping useful in buying clothes? Why?
  • What’s the effect of fashion industry on the current fashion?
  • What’s the effect of fashion on people’s behavior regarding clothes?
  • Do people care about recycling their clothing?

YaAllah part 3 nya kenapa susah haha. Kalau kata suami saya sih, mungkin saya dapat part 3 yang susah karena examiner nya mempertimbangkan untuk memberikan band yang tinggi sehingga menyesuaikan jenis soal yang diberikan. Hehe menghibur sih, amin! Yasudah tidak apa-apa jawab sebisanya dan alhamdulillah examiner sepertinya bisa menerima sekaligus merespon dengan baik jawaban saya. Saya merasakan interaksi dengan beliau cukup kuat dan baik. Ohya sekedar tips, walaupun penting untuk bisa engage dengan baik dengan examiner pada sesi speaking ini, tidak perlu over. Tidak perlu bertanya kepada examiner apakah sudah makan, apa kabar, dan lain sebagainya. Basically examiner menginginkan partner yang bisa diajak bekerja sama dengan baik pada sesi tes speaking ini because, we all know, their pressure is also high. Hehe.

Keluar dari ruangan, menghembuskan napas lega. Nyesel-nyesel dikit kenapa ga ngomong ini itu, kenapa ga keluarin vocab ini, dst. Eh pas saya mau ambil tas, dari ruangan 4 keluar Paul, teacher saya selama les di IALF hehe. Beliau mengenakan kemeja biru muda, celana bahan, dasi, dan pantofel, berbeda sekali dengan saat mengajar yang hanya menggunakan polo shirt, celana kasual, dan sepatu kets. Hehehehe. Lucu kali ya kalau ternyata examinernya adalah teacher sendiri, eh tapi mungkin ga ya? Entahlah 🙂

Overall, saya merasa puas tes disini karena fasilitasnya nyaman, audionya clear, dan penyelenggaraannya juga tertib. Hasil tes bisa diambil 13 hari setelah tes dilakukan.

Untuk yang berencana melakukan tes IELTS dalam waktu dekat, semoga artikel ini bermanfaat. Good luck ya!
Featured Image Source here

Dwi Mustika Handayani

Pengalaman IELTS Preparation di IALF Jakarta

Selamat siang, happy weekend everyone!

Kalau teman-teman pembaca menyadari, judul blog ini sudah tidak lagi The Wedding Journal. Kenapa ya? Alasannya sederhana, karena saya ingin memberikan kebermanfaatan blog ini seluas-luasnya, berbagi sebanyak-banyaknya, tidak terbatas pada hal-hal terkait persiapan pernikahan saja. Insyaallah. Tulisan persiapan pernikahan tetap bisa diakses di menu The Wedding Journal yang ada di top bar halaman ini ya 🙂

Kali ini saya ingin bercerita pengalaman saya dan suami mengikuti kursus IELTS Preparation di IALF Jakarta. Awalnya ada beberapa lembaga yang saya lirik untuk ambil IELTS Prep, di antaranya adalah British Council, IDP Education, dan IALF (Indonesia-Australia Language Foundation). Alternatif lain adalah Kaplan BSD, The British Institute, atau LBI UI Depok.

Kami fokus untuk mencari informasi mengenai 3 lembaga pertama karena lembaga-lembaga tersebut merupakan lembaga resmi yang menyelenggarakan Tes IELTS di Indonesia, sehingga kami (langsung saja) percaya bahwa proses belajar akan didukung oleh pengajar yang kompeten dan memiliki standar. Hehe, alasannya mainstream ya, padahal bagaimanapun sebuah lembaga hanyalah merupakan kendaraan atau fasilitas, sementara proses belajar kembali lagi kepada individu masing-masing.

Ternyata British Council tidak memiliki kelas khusus persiapan IELTS, tetapi hanya kelas General English yang di dalamnya mencakup materi-materi IELTS. Sementara IDP juga hanya menyediakan workshop intensif yang dilakukan di hari kerja, sisanya hanya kelas dan materi online di web. Sehingga, karena kami butuh kelas yang intensif persiapan IELTS dan rutin di luar hari kerja, kami memutuskan untuk mengambil kelas IELTS di IALF Jakarta. Saya pun mendapat rekomendasi dari seorang sahabat yang pernah mengambil kelas disana. Ulasan-ulasan mengenai lembaga ini di blog-blog lain juga sangat baik.

Kami memutuskan untuk mengambil kelas Semi-Intensive IELTS Prep (50 jam) di hari Sabtu selama 8 minggu dengan biaya Rp 4.800.000/orang. Persyaratan untuk dapat mendaftar ke kelas ini adalah mengikuti placement test dan mendapatkan hasil minimum Pre Intermediete level. Biaya yang dibutuhkan untuk mengambil placement test adalah Rp 100.000 per orang. Tes dilakukan di perpustakaan IALF dan terdiri dari 50 soal pilihan ganda dengan waktu pengerjaan 1 jam. Hasil tes akan keluar saat itu juga, sehingga hanya perlu menunggu sebentar, dan kalau lulus bisa langsung mendaftar kelas.

Alhamdulillah saat itu kami berdua sama-sama bisa langsung mendaftar kelas, sehingga kami langsung mendaftar untuk kelas Sabtu. Ternyata cukup panjang waiting listnya, saat itu bulan Februari dan kami kemungkinan baru bisa mendapatkan kelas Maret atau April. Saat itu kami masuk urutan waiting list ke 90an, mungkin karena banyaknya peminat yang sedang melakukan persiapan untuk beasiswa juga ya, hehehe. Karena masih belum jelas akan bisa bergabung di kelas yang mana, pembayaran baru bisa dilakukan setelah kami mendapatkan info mengenai ketersediaan kelas. Akhirnya pada tanggal 21 Maret, kami mendapatkan kelas yang akan dimulai tanggal 1 April – 27 Mei 2017.

Kami masuk ke kelas yang sama. Jumlah siswa di kelas Semi-Intensive ini adalah 15 orang dan kebanyakan adalah perempuan. Rata-rata yang mengambil kelas ini adalah mereka yang mau melanjutkan studi ke luar negeri. Usianya sepantaran kami sih, tidak ada yang terlalu tua maupun terlalu muda. Paling muda adalah mahasiswa yang masih kuliah sarjana. Selama 2 bulan kami belajar dengan tenaga pengajar native asal UK, namanya Paul. Untuk pengajar di IALF memang sepertinya semuanya native, dan banyak di antara mereka memang tersertifikasi sebagai examiner IELTS. Waktu saya lagi tes IELTS juga saya ketemu dengan Paul yang sedang menguji tes speaking di ruangan sebelah. Hehe. Jadi kita benar-benar belajar dari ahlinya, serta sedikit banyak mengerti apa yang diharapkan dan pola pikir examiner dari setiap section (terutama writing dan speaking).

Saya pribadi merasa puas belajar disini. Metodenya menyenangkan dan tidak membosankan, walaupun suasana kelasnya tidak seseru waktu saya kursus bahasa Jerman dulu. Orang-orangnya cenderung seragam, mungkin karena latar belakang yang cenderung mirip atau karena perbedaan usianya yang tidak terpaut terlalu jauh. Haha Jadi kelas ini agak serius dan orangnya pintar-pintar (jadi ga banyak yang nanya-nanya hehe). Okelah, yuk belajar yang serius 🙂

Dari Paul sendiri, dia memiliki metode mengajar yang menyenangkan. Terkadang kita harus berputar – putar sekeliling kelas untuk mengerjakan heading matching, atau kerja kelompok, atau main game sederhana untuk melatih speaking, bermain dengan dadu, latihan interview dengan que card, dan lain sebagainya. Hampir setiap pertemuan Paul akan memulai dengan brainstorming topik-topik yang sedang hangat dan sering muncul di tipe-tipe soal IELTS. So overall, seru sih!

IMG-20170527-WA0001[1]
Last day!
Saya ingin coba mengulas model belajar disini untuk masing-masing aspek dalam ujian IELTS ya..

  • Reading
    Kami sering sekali diberikan PR reading, serius hampir setiap minggu ada PR, bisa 1-2 passage. Di kelas kami pun sering berlatih mengerjakan reading. Tips-tips dari Paul tentang cara mencari jawaban reading juga useful menurut saya.

 

  • Writing
    PR untuk writing tidak sebanyak dan sesering reading. Tetapi dari PR tersebut, kami diberikan feedback secara personal untuk setiap aspek dalam penilaian tes IELTS, sehingga kami belajar kesalahan kami, mana yang kurang tepat, mana yang sudah oke, mana yang perlu ditingkatkan. Untuk writing kami juga sering berliatih di kelas dalam bentuk peer group (2-3 orang), dan tetap diberi feedback. Hasil kerja bersama kelompok biasanya akan dibuatkan copyannya oleh Paul, sehingga setiap orang tetap memegang hasil pekerjaannya. Menurut saya pribadi, writing ini merupakan section test yang paling membutuhkan strategi yang matang dan penguasaan yang baik, sehingga ke empat aspek penilaian IELTS writing (task achivement, coherence, lexical resource, grammatical range and accuracy)  harus benar-benar diperhatikan.

 

  • Listening
    Listening juga lebih sering dilakukan di kelas. Paul mengajarkan kita untuk bisa memprediksi distractor2 apa saja yang mungkin akan mengecoh kita dari jawaban yang benar (ini penting sih!), karena listening itu bukan sekedar mendengar sepenggal-sepenggal informasi, tetapi memahami secara utuh. Remember, just because you hear it, doesn’t mean it is the correct answer!

 

  • Speaking
    Ini aspek IELTS yang belajarnya paling sering menggunakan permainan interaktif. Seperti yang sudah disebutkan di awal tadi, seperti latihan tanya jawab menggunakan form/que card, latihan bercerita dengan diberi waktu, dll. Kadang juga ada tools tambahan seperti dadu, pion, dan bahkan sodet plastik. Hehe. Jadi interaksi dengan teman lebih banyak di section pembelajaran yang ini. Disinilah kita dilatih untuk percaya diri dan belajar dari teman-teman yang lain. Yang berbicaranya lebih fluent, yang kontrol terhadap struktur dan grammarnya baik, yang penguasaan lexicalnya juga lebih luas. Hebat2 deh! Kami saling bertukar ide dan saling support disini. Bahkan saling memberikan feedback. Sementara Paul hanya menyimak, memantau, dan sesekali memberikan feedback karena he obviously only has 2 ears. Meskipun demikian, jangan khawatir, masing-masing dari kami juga diberi kesempatan untuk melakukan 1 sesi simulasi tes speaking (MOCK Test) dengan Paul secara personal, dimana Paul berperan sebagai examiner. Disini feedback-feedback yang diberikan oleh Paul juga sangat detail. Bahkan saya masih simpan rekamannya, itung-itung kenang-kenangan. Hehehe.

Ujiannya diadakan 2 kali yakni saat mid term dan saat end term. Saat mid term tes nya berupa full listening + reading, ditambah writing section 1 only (karena belum banyak menyentuh section 2). Sementara untuk end term, full listening + reading + writing. Untuk speaking hanya dilakukan satu kali per orang, sesuai dengan jadwal (dalam satu hari ada sekitar 3 orang yang simulasi tes speaking).

Berbicara tentang fasilitas, fasilitas di IALF ini sangat lengkap. Selain study room, ada common room tempat kita makan dan bersantai (free drinking water and coffee!), computer room yang dilengkapi headset setiap unit, auditorium tempat tes IELTS dilaksanakan, dan juga perpustakaan yang super lengkap. Ohya, saran saya bagi teman-teman yang berencana kursus di IALF, manfaatkan betul perpustakaannya ya, karena buku buku ELT (English Language Training) dan Referencenya bagus bagus, jarang dijumpai di toko-toko buku yang umum. Kita juga bisa meminjam CD Audio untuk buku-buku yang memiliki Audio. Jadi selagi masih menjadi student disana, manfaatkan resource yang ada sebaik mungkin hehe.

Untuk buku, IALF tidak memberikan 1 buku untuk dijadikan pegangan kita. Setiap pertemuan, kita akan diberikan modul-modul kertas yang dapat kita masukkan ke binder yang diberikan di pertemuan pertama. Alasannya, karena tidak semua buku cocok dengan apa yang kita butuhkan. Jadi sistemnya adalah mengambil yang baik-baik dan dibutuhkan dari beragam buku.

Demikian, semoga bermanfaat, dan selamat belajar!
Featured image source

Dwi Mustika Handayani